Search

Showing posts with label Serba Serbi. Show all posts
Showing posts with label Serba Serbi. Show all posts

Tuesday, June 5, 2018

Sosok 9 Presiden Paling Sederhana di Dunia

Bagi sebagian orang di dunia, termasuk di Indonesia, kehidupan seorang Presiden identik dengan kemewahan. Banyak Presiden di dunia tinggal di rumah mewah, kemana-mana naik limusin, punya banyak pengawal, fasilitas serba mewah, gaji banyak, dan bisnis keluarga yang dijalankan oleh anak dan istri.

Namun, tidak semua Presiden seperti itu. Di belahan dunia lain, terutama di Amerika Latin, muncul pemimpin-pemimpin yang tak beda jauh dengan kehidupan rakyatnya. Bagi mereka, menjadi Presiden adalah melayani rakyat.

Berikut nama-nama Presiden yang cukup sederhana di dunia:

1.    Fernando Lugo

Fernando Armindo Lugo Méndez (lahir di San Solano, San Pedro del Paraná, Departemen Itapúa, Paraguay, 30 Mei 1951; umur 62 tahun) adalah Presiden Paraguay sejak 15 Agustus 2008. Ia memenangi pemilu presiden 2008. Sebelum terjun ke dunia politik, ia pernah menjadi uskup Gereja Katolik Paraguay. Ia mengundurkan diri dari kepemimpinan gereja untuk mencalonkan diri menjadi presiden. Kemenangannya mengakhiri 61 tahun kekuasaan Partai Colorado dan berhasil mempersatukan para pemilih untuk menentang korupsi dan kekacauan ekonomi. Ia berjanji membersihkan korupsi dan mengangkat harkat penduduk asli Indian yang terpinggirkan
Dia mendapat julukan “pastor kaum papa”. Maklum, sebelum menjadi kandidat Presiden, Fernando Lugo adalah pastor yang sangat getol membela kaum tertindas. “Bila ada hal yang paling menyakitkan saya, maka itu adalah ketidakadilan dan terutama sekali ketidakadilan sosial,” kata Lugo.

Begitu dilantik menjadi Presiden tahun 2008, Lugo langsung menyatakan tidak akan menerima gajinya sebagai Presiden sebesar 4000 USD per bulan. “Saya tidak membutuhkan gaji itu, yang sebetulnya hak kaum miskin,” katanya.

Selama menjadi Presiden, Lugo memilih tetap tinggal di rumahnya yang sederhana. Ia juga selalu berpakaian sangat sederhana: kemeja panjang atau lengan pendek.

Rikard Bagun dalam laporannya berkepala “Terperangah atas Asketisme Lugo” menulis, “Setiap tamu, termasuk kami bertiga dari Indonesia (saya, Budiman, dan Martin), ikut menikmati makanan harian Lugo berupa singkong rebus, nasi putih, daun kol cacah (salad), dan ikan. Jenis makanan sehari-hari rakyat biasa di Paraguay. Tidak ada yang istimewa.”

Rikard juga melihat, pada hari pertama di jabatannya, Lugo dan Hugo Chavez menyantap makanan rakyat Amerika Latin, seperti ubi kayu, jagung, dan pisang rebus. Sayang, 22 Juni 2012 lalu, Fernando Lugo dikudeta oleh sayap kanan melalui parlemen.

2.    Jose ‘Pepe’ Mujica


Jose Mujica adalah salah satu pemimpin Gerakan Pembebasan Nasional Tupamaro (MLN-T). Ia menghabiskan 14 tahun di penjara karena aktivitas gerilya melawan kediktatoran.

Ia memenangkan pemilu tahun 2009 dan resmi menduduki jabatan Presiden pada Maret 2010. Sejak menjadi Presiden Uruguay, Pepe Mujica memilih tinggal di rumahnya di pinggiran kota Montevideo. Di rumahnya itu tidak ada pelayan. Hampir semua pekerjaan rumahnya, seperti memasak, dikerjakan sendiri.

Selama menjadi Presiden, Pepe Mujica menyumbangkan 90 persen gajinya untuk menambah anggaran sosial negerinya. Pada tahun 2010, kekayaannya pribadinya tak lebih dari 1800 AS dollar atau sekitar Rp 18 Juta. Ia juga hanya menggunakan Volkswagen Beetle keluaran 1987 sebagai kendaraan pribadinya.

Hidup sederhana memang filosofi hidup politisi kiri ini. Ketika ia menjadi anggota parlemen, ia memang sudah sangat sederhana. Sampai-sampai  Petugas parkir gedung parlemen sangat kaget ketika melihat Mujica datang hanya mengendari motor vespa.

3.    Hugo Chavez


Hugo Chavez lahir dari keluarga kelas pekerja. Ia tumbuh dalam kehidupan yang sangat miskin bersama neneknya. Begitu terpilih sebagai Presiden tahun 1998, Chavez menggunakan kekuasannya untuk memberdayakan kaum miskin.

Dia juga adalah sosok Presiden yang sederhana. Seperti Fernando Lugo dan Jose Mujica, Chavez juga menyumbangkan sebagian besar gajinya untuk anggaran sosial. Chavez juga dikenal Presiden yang sangat merakyat. Ketika melakukan kunjungan, Ia hanya menggunakan jeep atau menumpangi truk.

Ketika hujan lebat mengguyur Venezuela, yang berakibat banjir hebat di mana-mana, Chavez membuka pintu istana Kepresidenan sebagai tempat penampungan. Baginya, Istana Kepresidenan adalah rumah rakyat.

Chavez adalah pembebas bagi rakyat Venezuela. Ia menggunakan kekuasaannya untuk merebut kembali kontrol terhadap sumber daya dan kemudian menggunakannya untuk memberantas kemiskinan, membebaskan rakyat dari buta huruf, menggratiskan pendidikan dan kesehatan, menciptakan toko sembako murah di seantero negeri, dan uan pensiun bagi lansia.
Chávez bergabung dengan pemerintahan Komunis Fidel dan Raúl Castro di Kuba dan pemerintahan Sosialis Evo Morales di Bolivia, Rafael Correa di Ekuador, dan Daniel Ortega di Nikaragua. Masa pemerintahannya dipandang sebagai bagian dari "gelombang merah jambu" sosialis yang menyapu seluruh Amerika Latin. Bersama mereka, Chávez menyatakan kebijakan-kebijakannya bersifat anti-imperialis, menjadi musuh utama kebijakan luar negeri Amerika Serikat, dan pengkritik lantang neoliberalisme dan kapitalisme laissez-faire yang didukung A.S.[3] Ia mendukung kerja sama Amerika Latin dan Karibia dan memainkan peran penting dalam pendirian Persatuan Bangsa-Bangsa Amerika Selatan, Aliansi Bolivarian untuk Amerika, Bank Selatan, dan jaringan televisi regional TeleSUR. Akan tetapi, Chavez memiliki sejumlah permasalahan dengan Kolombia, termasuk dukungannya terhadap pemberontak di Kolombia dan Ekuador. Chávez adalah sosok yang sangat kontroversial baik di dalam maupun luar negeri. Ia semapt mencerca beberapa pemimpin dunia dan membanding-bandingkan presiden Amerika Serikat George W. Bush dengan seekor keledai[4] dan iblis.

Pada tanggal 30 Juni 2011, Chávez menyatakan bahwa ia sedang memulihkan diri pasca-operasi pengangkatan tumor sel kanker.Ia melaksanakan operasi kedua pada bulan Desember 2012. Ia rencananya dilantik pada tanggal 10 Januari 2013, tetapi Majelis Nasional Venezuela sepakat menunda pelantikannya sampai ia pulih dan pulang dari tempat perawatannya di Kuba.Chávez meninggal dunia di Caracas tanggal 5 Maret 2013 pada usia 58 tahun.

4.    Fidel Castro



Fidel Castro adalah salah satu pemimpin Revolusi Kuba tahun 1959. Sejak itu, Kuba bergerak menuju sosialisme. Tak heran, karena langkahnya yang berbeda dengan jalan imperialisme itu, Fidel Castro dan Kuba banyak didiskreditkan.

Yang sering terdengar, Fidel dianggap diktator dan hidup sangat mewah. Majalah Forbes, misalnya, menuding Fidel punya simpanan 900 juta USD di luar negeri. Berbekal tudingan palsu itu, media-media mainstream menempatkan Castro sebagai orang terkaya di dunia.

Pada kenyataannya, Castro hidup sangat sederhana. Ia tak punya limusin seperti Obama. Pada kenyataannya, hanya menerima gaji sebesar 900 peso (Peso Kuba tidak punya nilai di pasar internasional, tetapi nilai domestiknya setara kira-kira 36$ per bulan atau sekitar Rp 350 ribu). Di Indonesia, kita hampir tidak menemukan lagi ada buruh yang dibayar di bawah Rp 350 ribu per bulan. Tetapi Kuba membayar gaji Presidennya hanya Rp 350 ribu.

Fidel sendiri sudah membantah tudingan Forbes. Ia bahkan menantang Forbs, “Jika anda bisa membuktikan saya punya uang 1 dollar di luar negeri, saya akan mundur dari jabatan saya.”

Dalam wawancaranya dengan Ignacio Ramonet, seperti ditulis di buku “Fidel Castro: My Life”, sekalipun gajinya pas-pasan, ia mengaku tidak sekarat dalam kelaparan. Sudah begitu, gaji yang kecil itu harus dia sisipkan untuk menyetor iuran ke partai.

5.    Nelson Mandela


Siapa yang tak kenal Nelson Mandela? Dia merupakan pemimpin terkemuka pembebasan Afrika Selatan dari kolonialisme dan apartheid. Namanya begitu termasyhur di seluruh penjuru Afrika dan dunia.

Meski begitu, Mandela tetap merupakan sosok yang sederhana. Begitu menjadi Presiden tahun 1994, Mandela rutin memotong gajinya untuk disumbangkan bagi anggaran sosial. Malahan, kemudian, ia menyerahkan sepertiga gajinya untuk membantu anak-anak.

Rumahnya di Johannesburg maupun di desa asalnya, Qunu, terbilang sederhana dan tak ubahnya dengan rumah masyarakat umum.

Tahun 1994, ketika negerinya didera utang warisan rejim lama, Mandela menyerukan pejabat negerinya mengencangkan ikat pinggang. Namun, sebagai langkah awal, ia memulai dengan memotong gajinya sendiri dan gaji Wakil Presiden.

6.    Rafael Correa

Rafael Correa adalah ekonom bergelar  PhD jebolan University of Illinois, AS. Namun, sekalipun menimbah ilmu di AS, Correa justru sangat anti-neoliberal.

Pada saat Luis Alfredo Palacio, Correa menjadi salah satu menterinya. Saat itu Correa berani menentang proposal IMF dan Bank Dunia. Sayang, tindakannya tidak direstui Presiden Ekuador saat itu. Correa pun mundur dari jabatannya. Namun, sejak peristiwa itu, nama Correa makin populer dan dikagumi rakyat.

Correa sendiri terbilang pemimpin sederhana. Tanggal 6 April lalu, ketika APBN Ekuador diancam defisit, Correa mengeluarkan dekrit untuk membekukan pembayaran gaji pejabat tinggi selama dua tahun. Itu termasuk gaji Presiden, Wakil Presiden, Menteri, dan pejabat tinggi lainnya.

Tak hanya itu, ia juga memotong gajinya dari sekitar 8000 USD menjadi 4000 USD. Memang, gaji pejabat Ekuador termasuk tertinggi di kawasan Andean. Dengan pemotongan gaji itu, Correa menyelamatkan APBN tanpa memangkas subsidi sosial rakyatnya.

7.    Evo Morales

Evo Morales adalah Presiden pribumi pertama dalam sejarah Bolivia. Seperti kebanyakan pribumi Bolivia lainnya, Evo kecil sangat miskin dan menghabiskan masa kecilnya dengan menggembala domba. Karena tekanan kemiskinan itu pula, Evo tidak bisa menuntaskan pendidikannya.

Evo adalah seorang petani. Penderitaan yang dialami oleh petani membuat Evo tertarik bergabung dalam serikat petani koka. Pada tahun 1995, ia turut mendirikan partai gerakan sosial bernama Gerakan untuk Sosialisme (MAS).

Dalam pemilu 2005, Evo memenangkan pemilu Presiden. Ia resmi menempati jabatannya Januari 2006. Begitu ia menempati jabatannya, Evo mengumumkan pemotongan setengah gajinya untuk meningkatkan jumlah guru dan dokter.

“Kita membutuhkan 6000 guru baru dan membutuhkan uang 2.200 USD,” katanya. Ia juga menyerukan agar menterinya mengikuti langkahnya. “Bukan untuk Evo, tetapi untuk rakyat,” tambahnya.

Ketika Peru dilanda gempa bumi, pada tahun 2007, Evo juga mendonasikan separuh gajinya untuk korban gempa. Begitu pula ketika terjadi gempa di Haiti dan Chile, Evo juga memotong separuh gajinya dan gaji Wakil Presiden untuk disumbangkan ke rakyat Chile dan Haiti.

Selama menjadi Presiden, penampilan Evo tidak berubah. Ia lebih sering memakai pakaian sederhana, seperti jaket kulit atau sweater biasa. Ia juga tidak meninggalkan kebiasan kaum pribumi mengunyah daun koka.

8.    Ahmadinejad

Ahmadinejad, yang pernah menjadi Walikota Teheran, Ibukota Iran, resmi menjadi Presiden tahun 2005. Saat itu, ia diminta mengumumkan kekayaannya. Ternyata, kekayaannya hanya satu rumah sederhana seluas 175 meter persegi dan mobil Peugeot putih keluaran 1977.

Selain itu, ketika baru menempati jabatannya, ia meminta pembantunya menggulung karpet antik peninggalan Persia di istana negara dan menggantinya dengan karpet biasa. Ia menolak kursi V.I.P di pesawat Kepresidenan.

Ahmadinejad selalu berusaha menggambarkan dirinya tidak berjarak dengan rakyat kebanyakan. Beberapa fotonya beredar di dunia maya memperlihatkan Ia tertidur pulas di atas karpet biasa.

9.    Lula Da Silva

Lula Da Silva adalah Presiden Brazil yang berlatar-belakang aktivis buruh. Ia lahir dari keluarga yang sangat miskin. Lantaran itulah ia harus meninggalkan bangku Sekolah Dasar. Sejak usia 12 tahun, Lula kecil hidup di jalanan, jadi tukang semir sepatu dan menjual kacang.

Pada usia 14 tahun, Ia bekerja di pabrik pengolahan tembaga dan menempati posisi operator mesin bubut. Lima tahun kemudian, ketika ia bekerja di perusahaan otomotif, ia kehilangan jarinya karena kecelakaan kerja. Namun, kejadian itulah yang mendorong Lula mengorganisir kawan-kawannya sesama pekerja untuk membangun serikat dan memperjuangkan hak-haknya.

Di bawah kediktatoran, Lula tampil sebagai aktivis kiri penentang kediktatoran. Tahun 1971, Lula terpaksa menyaksikan Istrinya, Maria de Lourde, yang menderita penyakit hepatitis, meninggal karena ketiadaan uang untuk membeli obat. Tahun 1978, Ia menjadi Presiden Serikat Buruh Pabrik Baja. Ia juga terlibat dalam pendirian Partai Buruh (PT).

Tiga kali maju sebagai Calon Presiden, Lula akhirnya terpilih pada tahun 2002. Pertama kalinya dalam sejarah Brazil dipimpin oleh Presiden berhaluan kiri dan dari latar-belakang klas pekerja.

Begitu menjadi Presiden, Lula tidak mengubah kehidupannya. Ia tetap berpenampilan sederhana. William Gonçalves, seorang Professor di Universitas Negara Rio De Jeneiro, mengatakan, “Lula adalah rakyat. Ia mengerti perasaan mereka dan berbicara dengan bahasa mereka.”

Lula terpilih dua kali sebagai Presiden Brazil. Masa pemerintahannya dianggap sangat sukses. Tak heran, tingkat penerimaan rakyat terhadap pemerintahan Lula mencapai 80%

Monday, May 22, 2017

Toga Dalam Sejarah dan Filosofi


Toga sangat tak modis serta keren jika ditinjau dari bentuknya. Namun, biarpun bentuk toga tak modis dan keren, tetap saja, busana ini paling dinantikan untuk dipakai siapa saja yang masih menempuh ilmu di bangku perkuliahan. karena toga adalah pakaian resmi yang dipakai dalam seremoni atau upacara wisuda waktu kelulusan mahasiswa dari kuliah mereka. tak hanya itu, dibalik bentuknya yang aneh, toga juga mempunyai sejarah serta filsafat yang cukup panjang.


SEJARAH TOGA
Kata toga berasal dari tego, yg dalam bahasa latin bermakna penutup. biarpun umumnya dikaitkan dengan bangsa romawi, toga sesungguhnya berasal dari sejenis jubah yang dikenakan oleh pribumi italia, yaitu bangsa etruskan yang hidup di italia sejak 1200 sm. kala itu, bentuk toga belum berbentuk jubah, namun sebatas kain sepanjang 6 meter yg cara menggunakannya sebatas dililitkan ke tubuh. walau tak praktis, toga adalah satu-satunya pakaian yg dianggap pantas waktu seseorang berada diluar ruangan untuk menutupi tubuh mereka.

Sejarah toga sesudah itu berkembang di romawi waktu toga dijadikan busana orang-orang romawi. waktu itu toga adalah pakaian berupa sehelai mantel wol tebal yang dikenakan sesudah mengenakan cawat atau celemek. toga diyakini telah ada sejak era numapompilius, raja roma yang kedua. toga ditanggalkan bila pemakainya berada di dalam ruangan, atau bila melakukan pekerjaan berat di ladang, tetapi toga dianggap satu-satunya busana yang pantas bila berada di luar ruangan.

Perihal ini terbukti dalam sesuatu cerita cincinnatu yang adalah seorang petani, waktu ia masih membajak ladangnya, ia kedatangan para utusan senat dengan tujuan untuk mengabari dirinya telah dijadikan diktator atau penguasa. diceritakan dalam riwayat itu, begitu cincinnatu lihat mereka, dia serta merta menyuruh isterinya mengambilkan pakaian toganya dari tempat tinggal untuk dikenakannya hingga utusan-utusan itu bisa disambut dengan layak. cerita tentang cincinnatu ini sebenarnya belum dapat diuji validitasnya, namun hadirnya cerita itu justru semakin menunjukkan sentimen penghormatan bangsa romawi terhadap toga.


Seiring berjalannya waktu, pemakaian toga untuk busana sehari-hari perlahan mulai ditinggalkan. namun tidak bermakna toga hilang begitu saja. sebab sesudah itu bentuknya dimodifikasi menjadi sejenis jubah. akhirnya modifikasi itu mengangkat derajat toga dari pakaian sehari-hari menjadi pakaian resmi seremonial yang mana diantaranya yakni seremonial wisuda.

Di negeri barat, kostum kelulusan hanya disebut gown. Sementara topi berbentuk bujur sangkar disebut mortarboard. Ada juga yang menyebutnya "graduate cap" dan "black cap".

Banyak peneliti meyakini mortarboard merupakan pengembangan dari biretta, yakni topi yang dikenakan oleh pendeta Katolik Roma. Biretta sendiri terinspirasi dari bahasa Italia "berretto" (berasal dari kata latin "birrus" dan Yunani "pyrros"). Di jaman Romawi sekitar abad 12 hingga 14, berretto sebagai ciri bagi kalangan pelajar akademik, seniman, dan humanis.

Walau demikian, paten mortarboard justru menjadi milik penemu dari Amerika Serikat, Edward O` Reilly dan imam Katolik, Joseph Durham di tahun 1950. Mungkin karena dibentuk bujursangkar, serta penambahan komponen seperti besi di dalam mortarboard sehingga lebih kokoh. Nyatanya, tak semua mortarboard dewasa ini memakai besi di dalamnya.

Sejak disahkannya paten tersebut, mortarboard dengan bentuk seperti yang kita lihat dewasa ini menjadi umum di seluas dunia. Penambahan komponen tali pada mortarboard pun diduga berasal dari tradisi orang Amerika. Di negara tersebut, semua jenis kelulusan dari tingkat sekolah dasar hingga SMA serta Universitas selalu memakai "gown" dan "mortarboard".

FILOSOFI PAKAIAN DAN TOPI TOGA SAAT WISUDA
Toga pula memempunyai arti filosofis yang kental, salah satunya yakni arti warna hitam pada toga. mengapa toga justru memakai warna hitam yang sering diidentikkan dgn perihal yg misterius serta gelap. mengapa tidak warna putih yang menggambarkan kecerahan serta keindahan yang dipakai ?
Ternyata pemilihan warna hitam gelap pada toga adalah simbolisasi yaitu misteri serta kegelapan telah berhasil dikalahkan sarjana waktu mereka menempuh pendidikan di bangku kuliahan, tak hanya itu sarjana pula diharapkan mampu menyibak kegelapan dgn ilmu pengetahuan yg selama ini didapat olehnya. warna hitam pula melambangkan keagungan, sebab itu, tak hanya sarjana, ada hakim serta separuh pemuka agama pula memakai warna hitam pada jubahnya.

tak hanya warna pada jubah toga yang memuat filosofi mendalam, ternyata ada pula arti filosofis dari bentuk persegi pada topi toga. sudut-sudut persegi pada topi toga menyimbolkan yaitu seorang sarjana dituntut untuk berpikir rasional serta memandang segala sesuatu hal dari beraneka sudut pandang.


TASSEL

Tali pada mortarboard disebut juga dengan "tassel". Tidak semua tingkatan pendidikan di Amerika Serikat selalu memindahkan tassel dari kiri ke kanan, walau tassel menjadi aksesoris penting pada mortarboard. Misalnya, untuk mahasiswa pascasarjana (S2) selalu membiarkan tassel di sisi kiri.
Warna tassel pun banyak ragamnya. Pada tingkat Senior High (sebanding SMA) warna tassel terdiri dari tiga warna, salah satu menjadi warna sekolah tersebut (color identity). Lalu di tingkat sekolah tinggi, mahasiswa yang lulus dengan gelar cum laude mengenakan tassel berwarna emas.

Mengapa pada kebanyakan upacara kelulusan (wisuda) tassel sering dipindahkan dari sisi kiri ke sisi kanan? Banyak pendapat mengenai ini, tanpa ada dasar yang pasti.

Ada pendapat menyebutkan, pemindahan ini mengartikan bahwa seorang mahasiswa saat masih belajar di universitas selalu menggunakan otak kiri. Maka, setelah lulus pemindahan tassel ke sisi kanan dengan harapan saat terjun ke masyarakat, siswa tersebut juga menggunakan otak kanan.
Sementara pendapat lain - umum dipercaya masyarakat barat - menyebutkan ini hanya prosesi biasa.

Ada perbedaan di sini, tassel awalnya menggantung di sisi kanan. Ini artinya siswa masih berstatus candidate (calon kelulusan), dan ketika dipindahkan ke sisi kiri artinya sudah graduate (lulus). Ada juga pendapat yang mengatakan pemindahan tassel sebagai arti bahwa mahasiswa yang lulus telah siap menyongsong hidup baru.

Sunday, November 9, 2014

10. ABRAHAM LINCOLN

(21 Febuari 1809-15 april 1865)

Kepada the Washington chronicle, Lincoln pernah berkata, “satu-satunya cara melindungi presiden adalah dengan memenjarakan dia dalam kota besi yang membuatnya tidak mempan tembakan musuh, tapi sekaligus juga tidak bisa bekerja untuk negaranya”.
Kalimat tersebut memang terdengar amat sinis. Tapi dari situlah orang bisa menilai, betapa tegarnya pribadi Abraham Lincoln. Ia sadar betul bahwa suatu saat nanti bisa jadi korban mereka yang tidak menyukai kebijakannya. Apalagi saat itu permusuhan orang utara dan selatan sedang menghangat. Sejarah pun membuktikan hal itu. Betapa tidak? Sepanjang masa jabatannya, ia 82 kali lolos dari percobaan pembunuhan yang terakhir terjadi tahun 1862, meski ia selamat karena peluru hanya mengenai topinya.
Jumat, 14 april 1865, setelah pertemuan kabinet ia mengajak jenderal Ulysses S. Grant untuk menemaninya menonton Opera Our American Cousin karya Tom Taylor. Tapi karena sudah kadung ada janji dengan keluarganya untuk pergi keluar kota, Grant menolak. Di lain pihak John Wilkes Booth, actor terkenal dari selatan yang tidak suka dengan kebijakan Lincoln, dan sekelompok ekstrimis telah lama punya rencana untuk menggulingkan presiden dan rezimnya. Caranya dengan menyingkirkan presiden dan wakilnya, Andrew Johnson, serta Menlu William H. Steward.

Kedatangan presiden di gedung opera itu akan dimanfaatkan Booth untuk melaksanakan rencana busuknya. Sebelum in action, Booth sempat mematangkan rencana dengan anggota komplotan lainnya, George A. Atzerodt, Sam Arnold, David Herold dan Lewis Paine.
Dalam pertemuan rahasia itu akhirnya disepakati pembagian tugasnya sebagai berikut : Paine di bantu Herold bertugas membunuh William H. Steward dan Booth membunuh presiden
Pada hari yang ditentukan, pukul 19.20 ketika opera sedang berlangsung, Booth masuk ke gedung opera dengan menyamar. Berpakaian serba hitam, ia memakai janggut palsu. Disabuk terselip pisau belati, sementara di dalam baju komprangnya tersimpan dua pistol Colt. Merasa belum cukup menenteng senjata 6 inci Derringer yang sudah terisi siap terkokang. Persiapan yang dilakukannya nyaris sempurna.
Kebetulan saat itu pengawal John Parker sedang tidak berada di posisinya, kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Booth. Pada saat adegan di panggung lagi seru, Booth menyelinap ke balkon ruang presiden yang kala itu didampingi Walikota Washington Rathbone,  dan menembakan Derringer-nya tepat dibelakang kepala Lincoln di atas telinga kiri. Peluru langsung menembus otak dan mendekam di belakang mata kanannya.

Melihat presidennya tergeletak, Rathbone meloncat untuk meringkus si penembak. Tapi Booth melawan bahkan sempat menusukan pisau ke lengan Rathbone. Setelah itu si penembak meloncat ke panggung, dan menghilang ke luar setelah pergelangan kakinya terluka oleh besi pembatas. Pukul 07.20 ke esokan harinya presiden Abraham Lincoln dinyatakan tewas.
Sementara itu di tempat lain. Lewis Paine meski berhasil menyusup ke dalam rumah Menlu Steward dan mensukan belati ternyata Steward berhasil lolos. Atzerodt yang mestinya bertugas membunuh wakil presiden malah mabuk di sebuah pub.

9. FRANZ FERDINAND


(18 desember 1863-28 juni 1914)

Meski secara umum kondisi politik kawasan eropa sangat tidak stabil, tidak ada yang melebihi panasnya suhu politik Balkan. Bosnia yang dicaplok kekaisaran Habsburg Austria, menuntut otonomi, sementara Serbia terus berupaya mempertahankan kemerdekaan ditengah ancaman ekspansi Austria.
Selama beberapa dekade, dengan karismanya Kaisar Franz Joseph berhasil mempertahankan stabilitas dan keutuhan daerah kekuasaanya yang luas dan beragam etnis di dalamnya. Tahun 1914, dalam usia ke 84 tahun sebagian besar kekuasaaanya lantas dipasrahkan kepada ahli warisnya pangeran Frans Ferdinand.
Dalam kapasitas sebagai Jenderal Angkatan Perang Kerajaan inilah Franz Ferdinand beserta istri, Putrid Sophie Chhotek, berniat mengunjungi Sarajevo, Bosnia. Sadar bahwa bahwa dirinya belum tentu bisa diterima semua pihak, Ferdinand amat hati-hati menjalani perannya. Apalagi sebelumnya sempat beredar issu adanya komplotan orang yang akan membunuhnya. Toh Ferdinand tetap pada keputusannya untuk mengunjungi Sarajevo, pada 24 juni 1914.

Benarlah di Sarajevo diam-diam sekelompok anak muda sedang menyusun rencana pembunuhan atas dirinya. Pemimpin kelompok inii adalah Gavrilo Princip (19), bersama dua rekannya yakni Nedeljko Cabrinov dan Trifko Grabez. Ketika mendegar rencana kunjungan Ferdinad ke Sarajevo, mereka menyiapkan diri untuk melancarkan aksinya. Apalagi setelah memperoleh bantuan dari Smrt-ili Zivot, kelompok Rahasia Serbia yang dipimpin kolonel Dragutin Dimitrijevic alias kolonel Apis.
Dari kelompok inilah mereka mendapatkan senjata serta jaminan keamanan untuk menyusup dari perbatasan Serbia menuju ke Bosnia. Mereka juga diiberi 2 orang ahli militer, Danilo Ilic dan Cvetko popovic yang akan mempermudah jalannya rencana pembunuhan tersebut.
Pada 27 juli 1914 rombongan Frans Ferdinand bermalam d Hotel Bosnia di Ilidze, 30 mil di sebelah tenggara Sarajevo. Pukul 10.00 rombongan berjalan melalui Quai, boulevard di tepi sungai Miljacka, sepanjang trotoar dipenuhi masyarakat yang mengelu-elukan rombongan. Ditengah kerumunan penonton itu Nedeljko melempar granat kearah mobil Ferdinand. Rupanya sopir sempat melihat lantas menekan gas untuk menghindar. Granat meledak mengenai mobil yang ada di belakang. Gagal dengan misinya Cabrinovic kabur melewati sungai namun sempat tertangkap.

Meski sudah dincar bahaya Ferdinand masih nekat untuk meneruskan acaranya. Kembali ke rute semula. Ndilalah, mobil pertama rombongan itu keliru mengambil jalan. Terpaksa iring-iringan rombongan berhenti untuk kembali ke rute sebenarnya. Pada saat berhenti itulah, Cavrilo Princip yang sudah siap didepan mobil Ferdinand bertindak ia menembakkan pistol browning-nya dua kali. Satu peluru mengenai Putri Sophie, yang lain menembus pangeran Ferdinand. Pasangan Kekaisaran Habsburg ini tewas, nyaris bersamaan. Dalam beberapa hari komplotan pembunuh itu terbongkar. Peristiwa itu akhirnya menyulut PD I, menyusul pernyataan perang Austria melawan sebia.

8. MAHATMA GANDHY


(2 oktober 1869-30 January 1948)

Dengan cara dan dalam bentuk apapun, tindak kekerasan merupakan sesuatu yang haram bagi mahatma Gandhi. Lebih dari 30 tahun, tanpa kenal lelah ia terus mengupayakan perjuangan anti kekerasan atau Ahimsa dalam setiap forum, sampai pada akhirnya tahun 1947 berhasil membuktikan keampuhan filosofi Ahimsa ketika negaranya berhasil mendapatkan kemerdekaan secara damai dari inggris namun kegembiraan Gandhi  tidak berlangsung lama, karena kemudian munculah berbagai aksi kekerasan terutama yang berdasar sentimen golongan dan agama. Januari 1948, dalam keputusasaan ia mengambil jalan mogok makan sampai mati. “Bagiku kematian merupakan pembebasan abadi dari pada menyaksikan kehancuran india akibat perang antar golongan”, ujar Gandhi. Ancaman itu rupanya disambut serius oleh para pemimpin agama yang ada.

Mereka sepakat untuk kompromi. sebagai kelompok mayoritas, kaum hindu berjanji tidak akan berlaku tiran kepada kelompok minoritas suku dan agama  lain. Melihat niat luhur itu akhirnya Gandhi menyudahi aksi mogok makannya. Tapi lagi-lagi Gandhi harus menelan kekecewaan. Keharmonisan hidup antar golongan itu ternyata semu. Bahkan kemudian muncullah gerakan anti Gandhi. Terutama kaum hindu militan menuduh Gandhi menyimpang dari agama mereka.  Maklum, saat itu banyak kaum hindu yang terbantai di Pakistan.

Mereka meminta pemerintah melancarkan aksi militer membela kepentingan golongannya. Di lain pihak, selama Gandhi masih hidup bentuk kekerasan militer tak akan dilakukan pemerintah. Satu-satunya cara, adalah menyingkirkan penghalang itu. Tanggal 20 January 1948, ketika Gandhi menghadiri doa bersama di rumah Birla, kediamannya di New Delhi, seorang pelarian melemparkan dinamit. Bom itu meledak hanya beberapa kaki di samping Gandhi.

Untung, Gandhi selamat. Menyadari potensi ancaman itu pihak kepolisian membujuknya untuk menerima perlindungan polisi.  Tapi ia menolak. Tanggal 30 januari 1948, setelah semalam bergadang untuk menyelesaikan draf konstitusi baru yang akan diajukan ke kongres, sepeti biasa sore Gandhi berdoa ke kuil. di dampingi kemenakan perempuannya, Abha, ia keluar dari rumahnya. Sepanjang jalan rakyat berbondong-bondong merubungnya untuk bersalaman atau menyentuh jubahnya selagi Gandhi lewat. Tiba-tiba dari kerumunan orang itu seorang pria menyeruak dan menghalangi jalan Gandhi. Dengan kasar ia mendorong Abha kesamping. Ia lalu mengangkat pistol dan serta-merta menembak orang bijak ini tiga kali dalam jarak yang amat dekat. Dua peluru pertama mengenai perut, sementara peluru ketiga langsung menghujam paru-paru Gandhi yang ketika itu masih sempat tersenyum seraya berkata lirih “Hey Ram” begitu melihat korbannya roboh ke tanah, sang penembak lantas menyerahkan diri.

Si pelaku bernama Nathuram V. Godse, pemuda radikal hindu yang saat itu bekerja sebagai editor Koran Marathi. Ternyata Godse tidak bertindak sendirian ada sekelompok konspirasi hindu dibelakangnya beranggotakan 8 pemuda.

7. JHON F. KENNEDY


(29 Mei 1917-22 November 1963)

Ini terjadi ketika rombongan Kennedy mendarat di bandara Dallas, 22 November 1963. Seorang gadis kecil memberikan bunga mawar merah kepada Jaqueline. Namun pada saat Jackie menerimanya, setangkai mawar terjatuh, buru-buru Kennedy memungutnya dan memberikannya kepada sang istri. “ini bukan bunga pemberian warga dallas. Tapi mawar dari saya untuk istri” ujar kennedy. Entah kenapa ia mengucapkan kata-kata tersebut. Yang jelas itulah kenang-kenangan terakhir kennedy kepada sang istri.
Setelah itu rombongan bergerak menuju kota.  Rencananya iring-iringan kendaraan presiden akan berhenti di gedung trade mart, untuk jamuan makan siang.

Limousine presiden dengan kap terbuka ini mempunyai tiga baris tempat duduk, masing-masing untuk dua orang. Presiden duduk dibangku paling belakang sebelah kanan, sementara Ny. Kennedy disebelah kirinya. Bangku tengah diisi Gubernur Dallas John B. Connally, tepat didepan presiden, didampingi istri. Mobil ini diikuti mobil pelindung dengan 8 orang anggota satuan pengawal. Menyusul kemudian mobil Wapres Lyndon B Johnson.

Pada waktu rombongan melewati Toko Buku Texas yang bertingkat 6, terdengar rentetan suara tembakan kearah mobil presiden. Tampak tangan Kennedy meraba lehernya. Sebutir peluru mengenai tengkuknya (bagian belakang agak ke sebelah kanan tulang lehernya) menuju ke bawah dan tembus di leher bagian depan mengakibatkkan dasinya tertekuk. Rentetan tembakan berikut yang menyerang John B. Connally akhirnya presiden ke-35 AS itu roboh ke panguan istrinya setelah peluru berikutnya mengenai belakang kepalaya. Dua puluh menit kemudian, ayah Caroline dan Jhon F kennedyy Jr, pemenang hadiah Pulitzer atas bukunya Profiles in Courage, dan presiden AS paling terkenal di nyatakan meninggal di rumah sakit. Dalam waktu singkat pihak kepolisian berhasil melacak jejak sipembunuh dilantai 6 toko buku texas ditemukan sepucuk senapan Mannchiler Carcanoo caliber 6,5.
 Lee Harvey Oswald
Dalam waktu tak terlalu lama, si pemilik senjata itu bisa ditangkap yakni Lee Harvey Oswald (24) mantan anggota marinir AS yang mempunyai ubungan dekat dengan pemerintah komunis Soviet.  Ia tercatat sebagai pegawai toko buku tersebut. Namun penyelidikan Oswald menemui jalan buntu ketika kemudian seorang bernama Jack Rubenstein menembak mati Oswald sebelum sempat diadili
.Jack Rubenstein

6. ALDO MORO


(23 September 1916-9 mei 1978)

Sebentar lagi mereka akan membunuhku….
Surat singkat itu diterima Ny. Aldo moro tanggal 5 mei 1978, dari sang suami yang sudah 20 hari hilang tak tentu rimbanya. Rupanya itulah komunikasi terakhir yang dilakukan ketua partai demokrat Kristen italia dan mantan PM kepada keluarganya.
Tanggal 9 mei 1978, polisi menerima telepon dari kelompok Brigade Merah, yang mengatakan adanya bom mobil diluar markas besar partai demokrat Kristen, Roma. Satuan penjinak bom segera dikirim ke lokasi tersebut. Ternyata bukan bom yang mereka temukan, melainkan jasad Aldo Moro dalam keadaan mengenaskan. Kepalanya terkoyak 11 butir peluru.
Peristiwa itu bermula di pagi hari 09.00 16 maret 1978, ketika mobil Aldo Moro yang sedang dalam perjalanan pulang dari gereja ke rumahnya di Roma, dicegat 3 mobil bernomor diplomatik. Lima lelaki dan seorang perempuan segera menyerbu mobilnya. Dengan senjata otomatis buatan rusia, mereka menembak mati sopir, sekretaris pribadinya serta 3 pengawal moro, yang berada di mobil lain. Serangan mendadak ini berlangsung tidak lebih dari 3 menit, sebelum akhirnya mereka menculik Moro.
Siangnya penculik mengirim rilis ke beberapa kantor berita dan menyebut identitasnya, brigade merah. Sebuah organissi teroris sayap kiri yang bertanggung jawab atas berbagai peristiwa pembunuhan di italia saat itu.
Pemerintah segera turun tangan. Polisi diterjunkan untuk melacak para teroris dibantu oleh satuan antiteroris jerman dan pasukan khusus SAS dari inggris. Dari komunike-komunike yang mereka kirimkan, brigade merah mengatakan kondisi Aldo Moro amat sehat. Mereka mengutuk kebijakan imperialis dan antiproletariat yang dilakukan demokrat Kristen yang berkuasa dan meminta pertanggung jawaban Aldo Moro. Selain itu mereka juga menuntut pembebasan 13 orang anggotanya yang ditahan pemerintah.
Tanggal 18 april mereka mengabarkan, Moro telah bunuh diri dan mayatnya bisa ditemukan di danau Duchessa di pegunungan Apenine. Ternyata mayat Moro tak ditemukan. Dua hari kemudian, para penculik mengatakan  bahwa Moro masih hidup dan tinggal menunggu saat di eksekusi yang akan dilakukan dalam 48 jam kemudian, kecuali bila tuntutan mereka dipenuhi.
Dalam upaya melacak persembunyian para teroris, tanggal 18 april, polisi berhasil menemukan tempat bekas Moro di sekap di luar Roma. Dari sini polisi menyita beberapa senjata, dokumen palsu dan plat mobil diplomatik. Tapi karena pemerintah italia tidak memberikan ketegasan, akhirnya brigade merah kalap, sehingga nyawa Moro tak tertolong lagi.
Akhirnya, polisi berhasil menangkap para teroris itu tanggal 17 mei 1978.

5. MUHAMMAD ANWAR el-SADAT


(25 desember 1918-6 oktober 1981)

Ajaklah Sherif nonton parade. Beri dia pakaian militer….
Pesan itu disampaikan Anwar Sadat kepada isterinya Jihan, untuk mengajak Sherif (5) cucu kesayangannya sebelum ia berangkat menghadiri parade militer 6 oktober 1981. “dia sudah cukup besar sekarang,” begitu kata sadat seperti tertulis di memmoar Jihan Sadat, A Woman of Egypt (Pockets Book 1989).
Ternyata, Sheriff bersama dengan nenek, paman dan bibinya justru harus menyaksikan sang kakek tercinta tewas mengenaskan di tangan tentara yang begitu diibanggakannya.
Parade tahunan memperingati keberhasilan tentara mesir melewati terusan Suez merebut wilayah pendudukan Israel itu memang meriah. Di tengah bisingnya fly-pass akrobatik pesawat tempur mesir. Tiba-tiba iringan truk tentara berhenti di depan panggung. Seorang letnan meloncat ke luar dan melemparkan granat kearah presiden. Sesaat kemudian lima tentara baret hijau lainnya menghambur keluar dari kendaraan parade seraya memuntahkan peluru Kalashnikov. Bertubi-tubi peluru menghajar tubuh presiden Sadat yang kemudian tewas di rumah sakit. Sedikitnya 7 pejabat pemerintah tewas dan lebih dari 30 lainya luka-luka dalam peristiwa sadis menggemparkan tersebut.
Sadat memang tokoh besar. Kepergiannya justru semakin mengharumkan namanya sebagai negarawan yang cinta damai. Dengan selimut perdamaian itu pula ia pergi, setelah sebelumnya mencari arti damai lewat beragam perjuangan hidupnya, mlai dari tentara yang kenyang “makan” peperangan, diplomat, dan negarawan.
Selulusnya dari akademi militer kairo 1938, ia berjuang mengusir penjajah inggris dari bumi mesir. Sempat ditahan inggris tahun 1942  tetapi berhasil meloloskan diri. Setelah PD II, ia mengadaptasi kemampuan keprajuritannya dalam perjuangan Revolusi menjatuhkan Rezim Monarki Raja Farouk tahun 1952 untuk menjadikan negerinya republik.
Pada masa pemerintahan Presiden Gamal Abdul Naser, Sadat pernah menduduki beberapa jabatan kunci sampai ketika Naser meninggal 28 september 1973, Ia terpilih menjadi penggantinya.
Ditangannya secara dramatis Mesir mengurangi ketergantungan baik dari segi keuangan maupun bantuan militer dari uni soviet. Sebaliknya ia menjalin hubungan dengan dengan AS dan Negara barat. Dalam rangka meneruskan kebijakan pendahulunya melawan Israel, pada oktober 1973 ia berhasil menyeberangi terusan Suez merebut kembali daerah yang diduduki Israel.
 Anwar Sadat, Jimmy Carter dan Menachem Begin
Menyadari betapa mahalnya harga peperangan dan akibat buruk konflik dengan Israel, Sadat mulai berpaling kearah yang berlawanan, caranya menghisap pipa perdamaian dan hidup berdampingan dengan Israel.
Tekad itu benar-benar diwujudkan oleh Sadat tanggal 19-20 november 1977, ia memenuhi undangan PM Israel Manachem Begin untuk berpidato di Knesset, parlemen Israel. Sebuah tindakan yang tak berampun di mata kelompok fundamentalis islam di negerinya. Toh ia tak gentar. Usaha perdamaian itu dijalaninya tanpa mengenal lelah di tengah ancaman pihak yang tak setuju. Setelah 8 bulan berjalan, maret 1979, Sadat dan Begin menanda tangani Perjanjian Damai di Camp David, Maryland, AS dengan perantaraan presiden AS Jimmy Carter. Ini merupakan perdamaian yang pertama yang terjadi antara Israel dan Negara arab.

Berkat upaya damai itu Anwar Sadat bersama rekanya Menachem Begin di Anugerahi Nobel Perdamaian, tahun yang sama. Meski dimata musuh politiknya ia dianggap sebagai pengkhianat yang harus di enyahkan.

4. BASHER GEMAYEL


(40 November 1947-14 september 1982)

Kalau Keluarga  kennedy pernah malang melintang di panggung politik AS, kancah serupa di Libanon saat itu didominasi oleh Klan Gemayel. Dari keluarga ini muncul nama-nama penting yang tidak bisa dilepaskan dari tumbuh dan berkembangnya negeri ini. Tahun 1937 Pierre Gemayel mendirikan Partai Falangis. Sejak berdiri, partai yang didominasi kaum Kristen maronit ini menguasai kehidupan politik libanon.
Setelah perang sipil antar faksi-faksi falangis, palestina dan muslim libanon, Bashir  Gemayel, putra bungsu Pierre, mengambil alih kepemimpinan partai falangis dari tangan ayah. Agustus 1982, oleh parlemen Libanon, Bashir terpilih menjadi presiden negeri itu, di tengah ancaman dari musuh-musuh politiknya yang duduk di oposisi.

Malam, 14 september 1982, sepuluh hari sebelum sempat dilantik, sebuah ledakan bom menewaskan Bashir. Ia kemudian digantikan oleh sang kakak, Amin Gemayel.

3. INDIRA GANDHI


(19 November 1917-31 Oktober 1984)

Indira Gandhi
Siapa pun orangnya, menjadi perdana menteri india perlu nyali besar bahkan harus siap bertaruh nyawa. Negeri ke-7 terbesar di dunia itu sarat dengan berbagai macam problema. Mulai dari pengentasan kemiskinan, pemberantasan kemiskinan, pemberantasan penyakit, korupsi dan konflik berbagai etnis maupun agama. Belum lagi, berbagai konsekwensi dari ambisi india memasuki era teknologi modern.
Bagi PM Indira Gandhi (Priyadar Shini) beban ini semakin bertambah dengan kebangkitan kaum Sikh tahun 1984 yang menuntut otonomi penuh kawasan Punjab. Saat itu kaum Sikh menumpuk kekuatan dan persenjataan di kompleks kuil Emas, Amritsar sebagai markas pemberontakannya.
Kekauatan Sikh tersebut tak hanya merongrong integritas Negara, melainkan juga membahayakan komunitas hindu karena yang dijadikan markas mereka adalah tempat suci kaum hindu. Di lain pihak keberhasilann operasi militer, Blue Star, yang dilancarkan pemerintah Indira Gandhi menumpas pembangkang Sikh di Kuil Emas tersebut justru menjadi bumerang. Tewasnya ratusan kaum Sikh dan rusaknya kuil membuat Indira Gandhi mendapat kecaman dari golongan Sikh.
Beant Singh dan  Satwant Singh
 Adalah ajun inspektur Beant Singh anggota pengawal PM indira Gandhi yang telah bertugas selama 8 tahun. Rupanya di balik kesetiaan itu Gandhi tak mengira kalau si pengawal punya hubungan dekat dengan ekstrimis Sikh. Kepercayaan yang sudah digenggam dan kemudahan akses fisik dengan indira Gandhi membuat Beant Singh dipilih oleh kelompok radikal Sikh menagih “Utang Nyawa” kepada sang Perdana Menteri.
Untuk melaksanakan rencananya, ia merekrut asisten sesama pejuang Sikh, Satwant Singh (24), anggota kepolisian New Delhi yang baru di alihtugaskan ke jajaran pengawal PM.
Hari itu tanggal 31 oktober 1984, upacara pertama Gandhi melayani wawancara televisi dengan Peter Ustinov. Tumben kali ini Gandhi agak pesolek, suatu hal yang nyaris tak pernah dilakukannya. Anehnya lagi, ia menolak rompi anti peluru yang selalu dipakainya setiap kali tampil di tempat umum. Alasannya, nanti tubuhnya kelihatan gendut. Sepintas memang sepele, tapi terbukti kemudian ini merupakan kesalahan fatal.
Ketika berjalan melalui koridor terbuka yang menghubungkan kediamannya dengan kantor di Akbar House, Indira dikawal lima petugas pimpinan Dinesh Bhatt. Sementara Beant Singh dan Satwant Singh menempati posnya di bawah kerimbunan pohon bougenvile tak jauh dari jalan yang dilalui indira. Ketika melewati dua pengawal itu, sang PM masih sempat senyum kepada keduanya. Bahkan senyuman negarawati kawakan itu masih mengembang ketika tiba-tiba Benat Singh menembakkan pistol kaliber 38 tiga kali langsung mengenai majikan yang harus dijaganya. Pada saat yang hampir bersamaan, Satwant memuntahkan peluru Sten-nya kearah indira yang kemudian roboh ke tanah.
Indira Gandhi
Mengetahui sang PM roboh, para petugas keamanan lain segera mengetahui dan menembaki kedua pelaku tersebut. Dalam baku tembak itu Beant tewas seketika, sementara Satwant terluka parah.

2. OLOF PALME


(30 jan. 1927- 28 feb. 1986)

Olof  Palme
Sebelum menjadi Perdana Menteri Swedia Sven Olof Joachim Palme dikenal sebagai politisi kampiun, Baik di Negara sendiri maupun di dunia international Alumnus Fakultas Hukum Universitas Stockholm ini mengawali karirnya tahun 1950, sebagai anggota Partai Demokrat Sosial, orsospol tertua dan paling lama berkuasa di negeri itu. Tiga tahun kemudian ia menjadi Sekretaris Pribadi PM
Tage Erlander , sebelum akhirnya berkiprah di parlemen.
Sepuluh tahun kemudian ia berhasil menyisihkan bosnya, dan terpilih menjadi Perdana Menteri Meski Partai Demokrat Sosial yang sudah 44 tahun berkuasa, kalah dalam pemilu  1976, Olof Palme tetap aktif  berorganisasi. Selain memimpin komisi independen keamanan dan perlucutan senjata di jenewa, ia juga di tunjuk sebagai utusan khusus PBB untuk menengahi masalah iran –irak.

Olof  Palme
Bintangnya kembali bersinar ketika dalam pemilu tahun 1982 ia terpilih kembali sebagai Perdana Menteri.
Tengah malam, 28 februari 1986, bersama sang istri, Olof sedang dalam perjalanan pulang dari nonton bioskop. Di tengah jalan, seorang penembak gelap memuntahkan peluru mengenai dadanya hingga ia tewas seketika. Sementara istrinya yang kena tembakan di punggung berhasil di selamatkan. Sebelum polisi bertindak sang pelaku sudah keburu kabur.