Search

Sunday, November 9, 2014

3. INDIRA GANDHI


(19 November 1917-31 Oktober 1984)

Indira Gandhi
Siapa pun orangnya, menjadi perdana menteri india perlu nyali besar bahkan harus siap bertaruh nyawa. Negeri ke-7 terbesar di dunia itu sarat dengan berbagai macam problema. Mulai dari pengentasan kemiskinan, pemberantasan kemiskinan, pemberantasan penyakit, korupsi dan konflik berbagai etnis maupun agama. Belum lagi, berbagai konsekwensi dari ambisi india memasuki era teknologi modern.
Bagi PM Indira Gandhi (Priyadar Shini) beban ini semakin bertambah dengan kebangkitan kaum Sikh tahun 1984 yang menuntut otonomi penuh kawasan Punjab. Saat itu kaum Sikh menumpuk kekuatan dan persenjataan di kompleks kuil Emas, Amritsar sebagai markas pemberontakannya.
Kekauatan Sikh tersebut tak hanya merongrong integritas Negara, melainkan juga membahayakan komunitas hindu karena yang dijadikan markas mereka adalah tempat suci kaum hindu. Di lain pihak keberhasilann operasi militer, Blue Star, yang dilancarkan pemerintah Indira Gandhi menumpas pembangkang Sikh di Kuil Emas tersebut justru menjadi bumerang. Tewasnya ratusan kaum Sikh dan rusaknya kuil membuat Indira Gandhi mendapat kecaman dari golongan Sikh.
Beant Singh dan  Satwant Singh
 Adalah ajun inspektur Beant Singh anggota pengawal PM indira Gandhi yang telah bertugas selama 8 tahun. Rupanya di balik kesetiaan itu Gandhi tak mengira kalau si pengawal punya hubungan dekat dengan ekstrimis Sikh. Kepercayaan yang sudah digenggam dan kemudahan akses fisik dengan indira Gandhi membuat Beant Singh dipilih oleh kelompok radikal Sikh menagih “Utang Nyawa” kepada sang Perdana Menteri.
Untuk melaksanakan rencananya, ia merekrut asisten sesama pejuang Sikh, Satwant Singh (24), anggota kepolisian New Delhi yang baru di alihtugaskan ke jajaran pengawal PM.
Hari itu tanggal 31 oktober 1984, upacara pertama Gandhi melayani wawancara televisi dengan Peter Ustinov. Tumben kali ini Gandhi agak pesolek, suatu hal yang nyaris tak pernah dilakukannya. Anehnya lagi, ia menolak rompi anti peluru yang selalu dipakainya setiap kali tampil di tempat umum. Alasannya, nanti tubuhnya kelihatan gendut. Sepintas memang sepele, tapi terbukti kemudian ini merupakan kesalahan fatal.
Ketika berjalan melalui koridor terbuka yang menghubungkan kediamannya dengan kantor di Akbar House, Indira dikawal lima petugas pimpinan Dinesh Bhatt. Sementara Beant Singh dan Satwant Singh menempati posnya di bawah kerimbunan pohon bougenvile tak jauh dari jalan yang dilalui indira. Ketika melewati dua pengawal itu, sang PM masih sempat senyum kepada keduanya. Bahkan senyuman negarawati kawakan itu masih mengembang ketika tiba-tiba Benat Singh menembakkan pistol kaliber 38 tiga kali langsung mengenai majikan yang harus dijaganya. Pada saat yang hampir bersamaan, Satwant memuntahkan peluru Sten-nya kearah indira yang kemudian roboh ke tanah.
Indira Gandhi
Mengetahui sang PM roboh, para petugas keamanan lain segera mengetahui dan menembaki kedua pelaku tersebut. Dalam baku tembak itu Beant tewas seketika, sementara Satwant terluka parah.

No comments:

Post a Comment

Trima kasih atas Kunjungannya..... Tolong..... tinggalkan komentar/pesan agar saya dapat belajar dan belajar, sehingga kelak blog ini dapat bermanfaat.....