Search

Sunday, November 9, 2014

5. MUHAMMAD ANWAR el-SADAT


(25 desember 1918-6 oktober 1981)

Ajaklah Sherif nonton parade. Beri dia pakaian militer….
Pesan itu disampaikan Anwar Sadat kepada isterinya Jihan, untuk mengajak Sherif (5) cucu kesayangannya sebelum ia berangkat menghadiri parade militer 6 oktober 1981. “dia sudah cukup besar sekarang,” begitu kata sadat seperti tertulis di memmoar Jihan Sadat, A Woman of Egypt (Pockets Book 1989).
Ternyata, Sheriff bersama dengan nenek, paman dan bibinya justru harus menyaksikan sang kakek tercinta tewas mengenaskan di tangan tentara yang begitu diibanggakannya.
Parade tahunan memperingati keberhasilan tentara mesir melewati terusan Suez merebut wilayah pendudukan Israel itu memang meriah. Di tengah bisingnya fly-pass akrobatik pesawat tempur mesir. Tiba-tiba iringan truk tentara berhenti di depan panggung. Seorang letnan meloncat ke luar dan melemparkan granat kearah presiden. Sesaat kemudian lima tentara baret hijau lainnya menghambur keluar dari kendaraan parade seraya memuntahkan peluru Kalashnikov. Bertubi-tubi peluru menghajar tubuh presiden Sadat yang kemudian tewas di rumah sakit. Sedikitnya 7 pejabat pemerintah tewas dan lebih dari 30 lainya luka-luka dalam peristiwa sadis menggemparkan tersebut.
Sadat memang tokoh besar. Kepergiannya justru semakin mengharumkan namanya sebagai negarawan yang cinta damai. Dengan selimut perdamaian itu pula ia pergi, setelah sebelumnya mencari arti damai lewat beragam perjuangan hidupnya, mlai dari tentara yang kenyang “makan” peperangan, diplomat, dan negarawan.
Selulusnya dari akademi militer kairo 1938, ia berjuang mengusir penjajah inggris dari bumi mesir. Sempat ditahan inggris tahun 1942  tetapi berhasil meloloskan diri. Setelah PD II, ia mengadaptasi kemampuan keprajuritannya dalam perjuangan Revolusi menjatuhkan Rezim Monarki Raja Farouk tahun 1952 untuk menjadikan negerinya republik.
Pada masa pemerintahan Presiden Gamal Abdul Naser, Sadat pernah menduduki beberapa jabatan kunci sampai ketika Naser meninggal 28 september 1973, Ia terpilih menjadi penggantinya.
Ditangannya secara dramatis Mesir mengurangi ketergantungan baik dari segi keuangan maupun bantuan militer dari uni soviet. Sebaliknya ia menjalin hubungan dengan dengan AS dan Negara barat. Dalam rangka meneruskan kebijakan pendahulunya melawan Israel, pada oktober 1973 ia berhasil menyeberangi terusan Suez merebut kembali daerah yang diduduki Israel.
 Anwar Sadat, Jimmy Carter dan Menachem Begin
Menyadari betapa mahalnya harga peperangan dan akibat buruk konflik dengan Israel, Sadat mulai berpaling kearah yang berlawanan, caranya menghisap pipa perdamaian dan hidup berdampingan dengan Israel.
Tekad itu benar-benar diwujudkan oleh Sadat tanggal 19-20 november 1977, ia memenuhi undangan PM Israel Manachem Begin untuk berpidato di Knesset, parlemen Israel. Sebuah tindakan yang tak berampun di mata kelompok fundamentalis islam di negerinya. Toh ia tak gentar. Usaha perdamaian itu dijalaninya tanpa mengenal lelah di tengah ancaman pihak yang tak setuju. Setelah 8 bulan berjalan, maret 1979, Sadat dan Begin menanda tangani Perjanjian Damai di Camp David, Maryland, AS dengan perantaraan presiden AS Jimmy Carter. Ini merupakan perdamaian yang pertama yang terjadi antara Israel dan Negara arab.

Berkat upaya damai itu Anwar Sadat bersama rekanya Menachem Begin di Anugerahi Nobel Perdamaian, tahun yang sama. Meski dimata musuh politiknya ia dianggap sebagai pengkhianat yang harus di enyahkan.

No comments:

Post a Comment

Trima kasih atas Kunjungannya..... Tolong..... tinggalkan komentar/pesan agar saya dapat belajar dan belajar, sehingga kelak blog ini dapat bermanfaat.....