Search

Sunday, January 4, 2015

MOSSAD BAB III JOSSELE

|<<<<<< Kembali ke BAB II PENCULIKAN ADOLF EICHMANN

 BUKU MOSSAD MENGUAK TABIR DINAS INTELEJEN ISRAEL (DENIS EISENBERG, ELI LANDAU DAN URI

 BAB TIGA
JOSSELE
Isser Harel sedang mengakhiri pidato di hadapan seratus orang agennya yang paling top.
Hari itu akhir Februari 1962, hamper dua tahun setelah misi spektakuler yang berhasil membawa Adolf Eichmann ke hadapan pengadilan Israel.
Kini, Isser sedang memberikan pengarahan tentang suatu misi lain.
“Meskipun kita mengadakan operasi yang berbeda dari biasanya.” Kata Isser menyimpulkan, “Namun masalah ini sangat penting.
“Misi ini penting karena latar belakang sosial dan keagamaannya.
“Misi ini penting karena masalah emanusiaan yang tercakup di dalamnya.
Pidato selesai. Seluruh anak buah Isser berjalan diam-diam keluar rungan briefing di markas besar Mossad.
Jika mereka kebingungan, tak seorang pun bisa mempersalahkan mereka. Seorang anggota Mossad harus selalu siapp menghadapi bahaya dan kesulitan dalam pekerjaan, namun masalah ini sangat tak lazim.
Isser Harel hendak mengutus orang-orang terbaik dari dinas rahasia Israel untuk menemukan seorang anak laki-laki berusia Sembilan tahun.
Anak ini bernama Joseph (“Jossele”) Schumacher dan ketika itu, walaupun ia sendiri tak menyadariya. Sedang menjadi pusat pertikaian cultural dan politik yang berdampak sangat besar bagi seantero Negara Israel.
Jossele dilahirkan si Israel pada Maret 1953, putra Arthur dan Ida Schumacher.
Ayah Ida, Nahman Shtarkes, adalah seorang tua yang amat sangat regilius. Ia sudah kehilangan tga jari kaki dan sebelah mata ketika tinggal di Siberia karena perintah dari pemerintah Rusia.
Salah seorang puteranya dibunuh oleh gerombolan Anti-Semit (sikap mendiskriminasi, memusuhi atau berprasangka buruk terhadap orang-orang Yahudi (Semilik) dan pemerintah tak berbuat apa-apa. Kebenciannya terdapat orangorang rusia nyaris sekuat keyakinan agamanya.
Nahman-lah yang meyakinkan putera-puteranya yang masih hidup serta puterinya ida untuk pindah ke Israel setelah perang dunia ke dua berakhir. Ia ikut berimigrasi bersama mereka.
Ida dan Arthur mendapati bahwa kehidupan di Tanah Perjanjian (sebutan orang yahudi untuk negeri kanaan (palestina), berdasarkan perjanjian natar tuhan dengan nabi Ibrahim yang terdapat daam kitab suci) sangat sulit. Israel masih menderita dampak perang kemerdekaannya yag di perjuangkan dengan susah payah. Pekerjaan, makanan dan uang sangat langka.
Karena tak dappat mempprakktekkan keahliannya sebagai penjahit, Arthur Schumacher bekerja di suatu pabrik dan Ida bekerja di suatu studio foto. Mereka sangat kekurangan uang dan ketika Zena, putera pertama mereka lahir dengan terpaksa mereka mengirimnya untuk tinggal di suatu desa orang-orang yahudi aliran Hasidis (Judaisme Hasidis, aliran agama yahudi yang berkembang di eropa timur sejak abad ke-18 dan diprakarsaii oleh Rabii Israel Ben Eliezer).
Pada 1953, putra kedua mereka lahir. Namanya adalah Joseph namun ia segera dikenal dengan nama Jossele.
Mereka mengirim Jossele untuk tinggal bersama kakeknya di bagian kota Yerusalem yang bernama Mea Shearim (adalah salah satu bagian kota Yerusalem yang tertua), suatu wilayah yang dihuni oleh orang-orang yahudi yang paling regilius.
Nahman Shtarkes adalah anggota sekte yang bernama Neturei Karta, Para penjaga tembok kota. Sekte Yahudi yang paling ortodoks dan sangat fanatik ini menolak mengakui Negara Israel. Para pemudanya menolak masuk dinas militer.
Shtarkes dan cucunya cepat sekali akrab satu sama lain, dan sang kakek berniat untuk mendidik Jossele agar menjadi seorang Yahudi yang sangat ortodoks.
Tetapi, Ida dan Arthur lebih memperhatikan masalah-masalah praktis. Pada salah satu dari sekian banyak kunjungan mereka untuk menemui Jossele, Ida menyampaikan bahwa Ida dan Arthur mungkin akan pindah ke Amerika. Ida menjelaskan bahwa di Israel sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan.
Nahman Shtarkes terkejut.
“Jossele takkan keluar dari Israel,” katanya bersumpah. Demikianlah akhir percakapan antara ayah dan puterinya.
Akhirya, sesudah lima tahun bekerja keras, keadaan keluarga Schumacher mulai membaik.
Mereka bahkan mampu membeli apartemen di dekat Tel Aviv, dan akhirnya, mereka bisa membawa anak-anak untuk tinggal bersama. Ida mengambil Zena
Sinagoga
Dari desa tempat ia tinggal lalu pergi ke Yerusalem untuk mengambil Jossele dari rumah kakeknya.
Tetapi Nahman Shtarkes merasa curiga. Ia tak menyetujui cara hidupp Arthur dn Ida sebagai orang Israel Mordern yang sekuler, mereka hanya punya waktu sedikit untuk bersembahyang dan melaksanakan ritual-ritual keagamaan setiap hari secara penuh (para penganut agama Yahudi di tuntut untuk bersembahyang tiga kali sehari dan empat kali pada hari sabat, yaitu mulai matahari terbenam pada hari jumat hingga sabtu malam).
Yang lebih buruk lagi. Nahman tidak melupakan ancaman mengerikan dari Ida, yaitu mereka mungkin akan meninggalkan Tanah Suci.
Sesudah mencoba selama berjam-jam akhirnya ia berhasil meyakinkan Ida bahwa mungkin akan lebih baik bagi anak itu jika ia diperbolehkan tinggal sedikit lebih lama di Yerusalem.
Untuk beberapa lama Jossele masih tinggal bersama kakeknya, namun akhirnya Ida kembali memohon sambil menangis.
“Tolonglah ayah kembalikan anak itu”
Shtarkes pun menyerah dan dengan suara sedih,ia berjanji untuk mengembalikan Jossele pada akhir minggu berikutnya. Ia hanya ingin tinggal beberapa hari lagi bersama anak pandai yang sangat dicintainya. Pada hari yang dingin di bulan desember 1959, Ida mencium anaknya dan mengucapkan selamat tinggal dengan bahagia sebelum naik bis untuk pulang ke Tel Aviv. Dalam perjalanan dengan bis selama Sembilan puluh menit, ia hanya berpikir betapa gembiranya nanti jika seluruh keluarga pada akhirnya tinggal bersama satu rumah.
Ida takkan melihat anaknya selama hampir tiga tahun.
Nahman Shtarkes sudah memutuskan untuk mendidik Jossele menjadi orang yahudi yang taat dan jika harus merebut Jossele dari tangan ibunya, ia akan melakukannya. Lebih baik anak itu diasuh oleh rabi-rabi Neturei Karta.
Ketika Ida kembali ke Yerusalem, Jossele hilang begitu saja. Kakeknya tak mau member tahu ibu Jossele kemana anak itu pergi.
Sesudah berminggu-minggu  memohon dengan sia-sia kepada ayahnya, ida pun melapor ke polisi. Mereka mendatangi rumah Nahman Shtarkes, namun orang tua itu tak mau mengatakan apapun.
“Menyelamatkan satu jiwa berarti menyelamatkan seluruh dunia. Saya tidak akan member tahu kalian di mana anak itu berada.”.
Pengadilan tinggi memerintahkan agar kakek Jossele dimasukan ke penjara hingga ia berjanji untuk mengeluarkan anak itu dari tempatnya disembunyikan.
Tetapi Shatarkes menyatakan bahwa hal ini “Bukan masalah besar” bagi seorang yahudi tua keras kepala yang dulu pernah di penjara di Siberia selama delapan tahun. Para petugas penjara tak menyetujui tindakannya namun menghormati keyakinan agamanya, dan mereka memperlakukan lebih sebagai tamu terhormat ketimbang penjahat.
Sebaliknya, mahkamah agung menyebut hilangnya Jossele sebagai sesuatu “Kejahatan mengerikan”. Tetapi sedikit saja yang bisa mereka lakukan. Para tetua Neturei Karta, yang dibantu oleh sekte-sekte keras lainnya, menutup diri rapatt-rapat bagaikan kepompong. Polisi menghabiskan waktu berminggu-minggu mengunjungi seluruh lembaga keagamaan, sekolah-sekolah dan sinagoga-sinagoga (rumah peribadatan agama yahudi) di seluruh Israel. Mereka mencari dan bertanya kemana-mana.
Hasilnya Nol besar. Tak satupun jejak yang ditemukan.
Sementara itu, Ida masalahnya kepada para wartawan dan skandal ini pun menjadi berita utama. Gambar-gambar kartun mengejek dan menertawakan usahausaha polisi serta pemerintah untuk menemukan anak itu. Setiap kali seorang polisi mengeluarkan karcis tilang, ia harus menahan ucapan-ucapan yang menhina : Daripada membuang-bunag waktu denda saya, mengapa kamu tidak mencari Jossele saja?
Di pos-pos polisi tertulis empat patah kata menggunakan kapur yang membuat para penegak hukum dan ketertiban merasa jengkel “Jossele ada dimana”.
Kerja keras para detektif dan polisi berseragam selama berbulan-bulan sama sekali tidak membuahkan hasil. Tampaknya Jossele sudah lenyap di telan bumi ini.
Pada musim semi 1960, masalah Jossele berkembang menjadi masalah politik yang serius.
Sejak Negara Israel dibentuk, sesungguhnya sudah ada perpecahan diantara orang-orang yahudi regilius dan orang-orang yang ingin membangun Negara Israel sebagaimana Negara-negara sekuler modern lainya. Mereka ingin membebaskan diri dari kungkungan hukum dan peraturan kuno yang menurut mereka terlalu kaku dan tak dapat diterapkan di zaman modern.
Masalah Jossele membuat segala selisih pendapat ini muncul ke permukaan.
Orang yang pertama kali menyadari adanya sesuatu yang akan meledak adalah Rabi Shalomo Laurenz, seorang anggota partai Israel Agudat. Israel Agudat adalah partai religious ortodoks namun lebih modern ketimbang Neturei Karta. Para pemimpinnya merasa kawatir bahwa perang saudara akan berlangsung jika Jossele tak segera dikembalikan.
Rabi Laurenz pergi berkeliling Israel untuk menekan para pemimpin Neturei Karta. Para pemimpin agama lainnya mengikuti teladan Rabi Laurenz. Mereka memohon, beragumentasi dan mengancam.
Tak ada hasilnya.
Sekelompok pemimpin agama pergi mengunjungi Rabi Amram Blau dan adiknya, Moshe, yang merupakan pemimpin rohani seantero Neturei Karta. Mereka meminta mereka untuk bersikap bijaksana dan menyerahkan Jossele.
Kami tidak tahu apa-apa demikian jawaban yang diperoleh.
Para pemimpin nasional, polisi dan politikus yang mengunjungi kedua kakak beradik itu pun memperoleh jawaban yang serupa.
Kini jelaslah bawa Neturei Karta tak mau mundur. Ketegaran hati mereka sama seperti yang dimiliki orang-orang Israel yang memilih dibakar mati daripada melepaskan agama mereka. Orang-orang ini lebih suka mati daripada menyerahkan Jossele.
Usaha-usaha polisi untuk menemukan anak itu terus-menerus tak membuahhkan hasil. Kepala polisi yerusalem sadar bahwa mereka sudah kalah.
Kepala penjara yang  bertanggung jawab atas Nahman Shtarkes  menyadari bahwa tak ada gunanya menahan orang tua itu lebih lama. Bibirnya tetap tertutup rapat. Ia tidak dapat dibujuk. Ia takkan member tahu apapun kepada mereka.
Pada april 1961, sesudah dirawat dirumah sakit penjara untuk beberapa lama, Shtarkes dibebaskan secara diam—diam karena “alas an-alasan kesehatan”.
Kini, para pendukung shtarkes menganggapnya sebagai martil.
Slogan-slogan yang ditulis dengan kapur di dinding—dinding wilayah yang penduduknya religious mengungkapkan kemarahan penghuninya.
“Pemerintah Israel sama jelek dengan pemerintah Nazi.
Para pemimpin militer mulai cemas karena Mea Shearim, tempat pemukimannya kaum Naturei Karta sangat dengan wilayah yerusalem milik Yordania. Jika timbul perang antara Israel dengan yordania, seluruh wilayah itu bisa direbut dengan mudah. Wilayah itu adalah bagian garis depan Israel yang pertahanannya lemah.
Pada musim panas 1961 setengah tahun sesudah Jossele lenyap, pemilihan umu sudah semakin dekat.
Rahasia Jossele yang belum juga terungap kini menjadi issu nasional yang mengancam kemenangan Partai Mapai-nya David Ben-Gurion yang waktu itu memerintah Israel. Perdana menteri mengandalkan koalisi dengan sejumlah partai yang lebih kecil, termasuk partai-partai religious, untuk tetap menduduki kursi pemerintahan. Karena masalah Jossele, golongan religious mulai mempertanyakan kelanjutan dukungan mereka.
Situasinya gawat.
Akhirnya partai Mapai-nya Ben-Gurion memenangkan pemilihan umum, namun koalisinya benarr-benar lemah. Perselisihan pokok atas pertanyaan-pertanyaan yang timbul akbat hilangnya Joossele, “siapa itu orang yahudi ? apa itu Negara Israel?” sedang menggerogoti persatuan Israel.
Para pemuda yang berpandangan sekuler mulai menyerang anakk-anak Neturei Karta ketika mereka pergi bersembahyang ke Sinagoga atau ke Tembok Barat (Tembok Ratapan) tembok barrat sebaris dinding sisa reruntuhan kuil besar yerusalem kedua milik orang-orang yahudi 352 SM-70 M, tembok inii disebut juga tembok ratapan karena orang-orang israel masih menangisi kehancuran kuil ini hingga sekarang.
Tembok Ratapan
Sebagai balasannya, para pemuda yang berpandangan ortodoks melempar battuu ke mobil-mobil yang melanggar peraturan hari sabat dengan melewati jalan—jalan pada jumat malam atau sabtu.
Puluhan ribu warga yang menentang Neturei Karta menandatangani petisi yang diorganisir oleh “Komite umum untuk menyelamatkan Jossele”.
Di apartemennya di dekat kota Tel Aviv, Ida Schmacher menangisi putranya yang belum ditemukan. Jossele sudah hilang selama dua tahun.
Pada akhir febuari 1962, Ben-Gurion memutuskan bahwa tindakan drastis perlu dilakukan. Ia mengirim pesan kepada Isser Harel : Temui saya
Ketika tiba disana,Isser Harel hanya duduk di kursi di hadapan bosnya, keduanyya tak pernah berjabat tangan. Meraka tak pernah berbasa—basi atau saling menanyakan kesehatan masing-masing. Walaupun yang di bahas adalah masalah yang sangat penting, pembicaraannya hanya berlangsung selama beberapa detik.
Ben-gurion menatap lalu bertanya :
“Jossele ada dimana?”
“Saya tidak tahu,” jawab kepala Mossad itu.
“Apa kamu bisa membawanya ke hadapan saya?”
Ben-Gurion bahkan tak menunggu jawaban atas pertanyaannya yang kedua. Ia kembali melihat kertas-kertas di mejanya dan Isser pun segera pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Perintah untuknya sudah diberikan.
Isser sangat memahami pentingnya masalah yang dihadapinya. Malam itu, ia berkata lirih kepada isterinya : “Apa Kamu tahu apa yang saya pikirkan? Kita harus menyelamatkan wibawa Negara.”
Yang dikatakannya ini ttermasuk salah satu dari sedkit rahasia yang dipercayakan kepada Rivkah. Bahkan ia tak menceritakan apa sebenarnya ia maksudkan: Isterinya harus mereka-reka.
Isser mengambil seluruh arsip yang dikumpulkan oleh polisi dalam usaha pencaharian mereka yang sia—sia selama dua tahun. Ia mempelajari kasus itu dari awal hingga akhir dan segera mendapati bahwa polisi sama sekali tak memperoleh kemajuan dalam usaha mencari anak itu.
Jelas sekali bahwa menemukan anak itu akan menjadi tantangan yang sangat berat.
Polisi Israel
Polisi Israel adalah orang-orang terlatih baik dan teliti, namun mereka belum menemukan apa-apa.
Dan Isser pun tahu bahwa tugas yang sudah diterimanya takkan disukai anak-anak buahnya.
Mereka sudah terlatih dalam bidang spionase dan kontra spionase. Mereka sudah terlatih untuk mengumpulkan inormasi dalam situasi-situasi berbahaya, dan membunuh orang untuk menjalanka tugasnya jika diperlukan. Kadangkala, sebagaimana dinas-dinas rahasia lainnya, mereka menggunakan cara-cara itu dengan mengatakan kepada diri sendiri bahwa mereka sedang berperang melawan musuh-musuh bangsa Israel.
Tetapi apakah anak kecil ini merupakan musuh Israel? Apa orang-orang yahudi religious yang melindungi anak ini merupakan ancaman bagi Negara isrel? Bahkan, para mata-mata yang paling tidak menghiraukan agama pun menghormati orang-orang yang menjalankan peraturan—peraturan agama hingga yang paling ekstrem.
Sangat mungkin mereka akan merasa malu terhadap tugas ini. Mereka sudah terbiasa menghadapi Orang-orang Nazi dan KGB, yang merupakan orang-orang kejam seperti mereka. Kini mereka harus mencari seorang anak berusia sepuluh tahun di tengah-tengah saudara sebangsa yang sebenarnya baik.
Isser tahu mereka takkan menyukai tugas ini.
Tetapi, ia juga mengenal orang-orangnya. Jika disuruh melaksanakannya, merak akan mencarinya dengan sungguh-sungguh sebagaimana jejak Eichmann.
Hal inilah yang ia katakanya dalam pidatonya pada keesokkan harinya.
Isser dan para pembantu dekatnya telah menyusun strategi dan beberapa hari setelah menerima perintah Ben-Gurion, orang-orangnya sudah menyeba ke lapangan.
Mereka mulai mengadakan penyelidikan intensif di seluruh Isarel. Dari utara sampai selatan, dari barat ke timur, mereka mengujungi sekolah-sekolah, sinagoga-sinagoga dan pemukiman-pemukiman.
Para agen terbaik mengenakan pakaian tradisional dan kaum alim ulama Yahudi dan pergi ketembok Ratapan untuk menyusup ke tengah-tengah orang-orang yang sedang berdoa.
Segera saja mereka menghadapi masalah : karena mereka sendiri tak religious, para agen tahuu cara bersembahyang dengan benar. Orang-orang alim yang sejati mengetahui maksud para agen ini lalu menghujani mereka dengan caci-maki.
Dengan sangat malu mereka meninggalkan tempat itu.
Meskipun menghadapi masalah seperti ini, tak butuh waktu lama bagi isser, yang memiliki intuisi kuat untuk menyadari bahwa anak itu tak berada di Israel. Siasat pun diubah sesuai keadaan.
Kini agen-agennya disebarr ke seluruh eropa. Beberapa diantara mereka bahkan pergi lebih jauh ke hongkong, jepang, afrika selatan dan amerika latin.
Mereka melakukan pengintaian sebagaimana yang telah mereka lakukan jika hendak menjadi mata-mata  musuh atau teroris. Di pusat-pusat komunitas yahudi seperti Golders Green di London, Pletzl di paris, wilayah Williamsburg di Brooklyn, mereka mengamati jalan-jalan, mengunjungi sekolah-sekolah dan bertanya-tanya.
Dan seringkali mereka dilanda kebingungan.
Pada suatu ketika, tiga orang mata-mata memarkirkan mobil mereka sepanjang hari dekat sekolah keagamaan di suatu pemukiman kecil tak jayh dari paris. Mereka meneropong setiap anak yang ada di seolah itu, kalau-kalau salah seorang diantara mereka adalah Jossele.
Ketika sekolah usai dan setelah mereka memutuskan bahwa anak yang dicari tak terdapat di antara murid-murid sekolah, merekapun bersiap-siap pergi. Tetapi salah satu ban mobil sewaan mereka bocor dan mereka tak memiliki ban cadangan.
Mereka berada jauh dari telepon umum maupun bengkel, waktu itu musim dingin dan dari menit ke menit udaranya semakin dingin.
Tiba-tiba, pintu sekolah terbuka dan seorang rabi mendekati mobil itu. Ia agak takut namun berkata degan ramah : “Saya melihat salah satu ban mobil kalian bocor. Apa yang bisa kami bantu?”
Dengan malu-malu para agen itu mengikutinya ke sekolah kecil itu. Mereka sama sekali tak berpikir untuk bertaya-tanya kepada orang yag tidak curiga itu mengenai anak yang mereka cari.
Mereka lebih cemas kalau-kalau tertangkap polisi prancis karena mereka adalah orang asing di wilayah ini dan memiliki paspor asing, yang lebih buruk lagi adalah paspor mereka bukan paspor Israel.
Di kemudian hari, salah seorang dari ketiga agen itu mengatakan bahwa mereka semua merasa sebagai “Bajingan Tengik”
Tetapi rabi itu tidak mengetahui jati diri mereka yang sebenarnya. Ia membuat kopi panas dan mengusahakan agar seseorang dari bengkel terdekat datang untuk membantu mereka. Ketika mereka hendak pergi, sang rabi mengundang untuk datng kembali dan “melihat-lihat sekolah kami yang kecil ini.”
Salah seorang agen lain yang diikenal sebagaii ahli membunuh, ditugaskan untuk mengawasi satu sekolah yahudi dari balik hutann di dekat sekolah itu. Ia menggerutu panjang lbar karenanya.
“Aneh rasanya duduk di sana ditemani burung-burung hantu dan kelelawar-kelelawar. Apa yang saya lakukan? Mengawasi teroris? Bukan! Mencari seorang anak kecil. Saya merasa seperti orang bodoh!”
Seorang Agen “Menyusup” di kelompok oranr-orang yahudi aliran Hasidis yang berangkat dari swis menuju yerusalem untuk menguburkan salah seorang anggota mereka yang meninggal dekat tembok kota lama. Tetapi ia segera ketahuan.
Di London, sekelompok mata-mata yang terdiri atas sepuluh orang pergi ke sinagoga milik kaum ortodoks untuk mengikuti ibadah sabtu pagi. Merekapun segera dikenali sebagai jemaat gadungan dan di usir beramai-ramai.
Seluruh anggota jemaat mengikuti mereka hingga kejalan  raya sambil berteriak-teriak menghina. Ketika nyaris terjadi keributan, salah seorang rabi menelpon polisi. Tak seorangpun di pos polisi yang benar-benar tahu cara menangani segerombolan orang berjenggot panjang yang menggunakan Yarmulke (Yarmulke atau Kippah, kopiah khas orangorang yahudi) dan sedang meneriaki orang-orang religius gadungan yang menyusup ke komunitas mereka.
Akhirnya, sepuluh agen yang mengenakan jenggot itu ditahan. Scotland Yard (kantor pusat kepolisian London) pun turun tangandan mereka segera dibebaskan.
Obama Menggunakan Yarmulke
Sorang rabi ortodos teranam tinggal di London diundang ke paris oleh satu keluarga kaya-raya yang ingin agar ia melakukan penyunatan. Mereka akan membayari biaya perjalanannya dengan pesawat di kabin kelas satu dan ia akan memperoleh bayaran besar dari keluarga itu.
Rabi itu hanya meminta ongkos perjalanan dan naik pesawat menuju ibu kota prancis tanpa rasa curiga. Sesampaiinya di sana, sekelompok orang yahudi religious mengundangnya untuk pergii ke suatu “Kedai minum kecil yang baik” untuk minum segelas the dan bersantai sejenak sebelum melakukan penyunatan.
Mereka membawa orang itu ke Pigale, yang merupakan tempat pelacuran.
Sekonyong-konyong, dua perempuan yang mengenakan rok sangat pendek dan blus berleher rendah mendekati rabi yang kebingungan itu memeluk lehernya. Salah seoirang diantara mereka duduk dipangkuannya lalu beraksi dengan paha berstoking hitan yang dilingkarkan ketubuh sang rabi.
Para agen Mossad  memotret mereka dengan menggunakan kamera Polaroid. Mereka menujukan foto bermasalah itu kepada sang rabi yang ketakutan dan berkata dengan terus terang : “Jika kamu tak memberitahukan tempat kalian menyembunyikan Jossele, kami akan membawa foto-foto ini ke London dan membagi-bagikannya ke seluruh anggota jemaat sinagogamu.
Dengan sangat ketakutan, rabi itu berteriak “saya tak tahu apa-apa, saya tak tahu apa-apa.”
Akhirnya ia berhasil meyakikan mereka bahwa ia tidak berbohong. Ketika “teman-temannya” pergi dari tempat ituu dengan kesal ia mengejar mereka sambil berteriak “Penyunatannya bagaimana?” apa kalian tak lagi menginginkan agar saya melakukannya?”
Ia kembali ke London dengan pesawat berikutnya. Hingga sekarang, ia sangat merendahkan Mossad.
Beberapa bulan telah lewat sejak Isser mengirimkan orang-orang ke lapangan. Hasilnya sama sekali tak ada. Moral di kalangan para agen yang ditugaskan menangani masalah itupun merosot. Mereka tahu bahwa bahwa begitu banyak uang dari kas Mossad yang digunakan untuk mencari Jossele.
Tetapi, Isser tak mau menghentikan apa yang dimulainya. Ia tak mau kembali menemui David Ben-Gurion dengan tangan hampa.
Akhirnya, sesudah lima bulan bergumul dengan masalaah ini, munculah titik terang.
Ketika Isser merasa tak lagi berada di Israel. Ia telah menemui pihak militer yang berhak memeriksa semua surat masuk dan keluar dari Israel. Ia meminta agar mereka memperhatikan semua surat dari dan untuk lembaga-lembaga keagamaan baaik yang berada di Israel maupun di luar negeri. Jka menemukan sesuatu yang mencurigakan, mereka diminta agar ,menyampaikan hal itu kepadanya sesegera mungkin.
Sesuatu telah ditemukan oleh salah seorang petugas pemeriksa. Seorang tentara yang bertuugas di barak militer Negev menuls surat untk ibunya yang tinggal di brusels. Di pertengahan surat itu, terdapat satu pertanyaan yang terdengar lucu dan sama sekali tak berhubungan dengan konteks :
“dan bagaimana dengan anak itu?”
Ketika si pemeriksa menunjukan surat itu, Isser pun tahu bahwa si petugas sudah memilih surat yang tepat. Ia pun memanggil salah serang pembantunya dan menunjukan salinan Photostat surat itu kepadanya.
“anak itu ada di tempat ini,” kata Isser. “Temui nyonya ini dan masalah kitapun akan terpecahkan.”
Sang kepala Mossad mulai membuat rencana untuk pergi ke paris.
Sementara itu, lebih dari selusin agen segera dikirim ke brusels untuk menemuka tempat tinggal wanitaa itu. Ia sudah pindah ke paris, namun bisa dilacak dengan mudah hingga ke Aixles-Bains di Prancis selatan. Di sana para agen tak henti-hentinya mengawasi wanita itu.
Pada suatu pagi, ia pergi ke kantor pos terdekat dan meminta layanan telpon Collect Call ke London. Ia menyebutkan nama orang yang hendak di teleponnya terlebih dahulu, kemudian baru namanya sendiri.
Seluruh rincian percakapannya dicatat dengan sangat teliti oleh seorang pria yang kebetulan berdiri di belakangnya, menunggu giliran untuk menelpon ke Paris.
Orang itu sebenarnya agen Mossad.
Ketika wanita itu berbicara, dua orang pria yang duduk di tempat menelpon di sebelah si wanita mendengar setiap kataa yang diucapkannya. Mereka mengikutiny  meninggalkan kantor pos dan membuntuti mobilnya. Wanita itu mengemudikan mobilnya dengan cepat sehingga mereka harus dengan susah payah membuntutinya sambil tetap berjaga-jaga agar tak ketahuan.
Maam itu, si wanita mendekati  suatu daerah di luar kota pars, tetap dibuntuti oleh kedua agen Mossad ini. Tiba-tiba, setelah keluar dari suatu terowongan panjang, ia menghilang. Tak diketahui apakah ia melihat kedua orang yang membuntutinya atau tidak tetapi , ia hilang tanpa meninggalkan jejak.
Dua orang rekan para agen itu berada di London mengunjungi rumah seorang pria, seorang rabi yang di telepon si wanita. Ia tak memberitahukan apa-apa dan mengancam hendak  mengusir mereka serta memanggil polisi, merekapun pergi dan kembali merasa putus asa.
Isser Harel pergi bergegas ke Paris untuk mengendalikan situasi disana. Di pesawat, ia membaca dokumen mengenai wanita itu yang tenah menyulitkan anak buahnya itu.
Namanya Madeleine Frei, putrid suatu keluarga aristocrat prancis. Seorang yang pandai dan berambisi, ia kuliah di Sorbonne University dan Toulouse university. Di masa mudanya ia mengenakan pakain-pakaian modis yang sangat mahal dan di kenal sebagai gadis yang sangat cantik. Kehidupan sosialnya sibuk, dan dia pernah di pacari oleh puluhan pemuda.
Kemudian pecahlah perang dunia kedua.
Medeleine menjadi anggota Maquis, gerakan perlawanan bawah tanah prancis. Dalam organisasi inilah ia berhubungan dengan orang-orang yahudi untuk pertama kalinya dan menjadi sangat terkenal karena keberaniannya. Dia memilih untuk berpartisipasi dalam suatu tugas yang sangat berbahaya, yaitu membantu menyelamatkan anak-anak ghetto sebelum mereka dikirim ke kamp-kamp konsentrasi. Untuk jasanya selama perang ini, ia di anugerahi medali perlawanan.
Seusai perang, dia di nikahi temannya yang juga beragama katolik dan memperoleh seorang putera yang diberi nama Claude.
Kemudian, suatu yang aneh terjadi pada diri Medeleine Frei. Ia memperoleh suatu penglihatan dan memutuskan untuk menganut agama yahudi. Dia menceraikan suaminya dan dengan bantuan seorang rabi muda yang jatuh cinta kepadanya, dia memeluk agama yahudi. Puteranya telah pindah ke Israel dan dia pun berencana untuk ikut pindah.
Ketika Isser memikirkan cara menemukan wanita itu lagi dan membujuknya untuk menunjukan tempat Jossele, ia menjadi bingung
Ia tahu bahwa ia dan agen—agennya berjalan di jalan yang berbahaya. Mereka telah menggunakan cara-cara kejam dan curang untuk menemukan anak itu. Sekarang mereka tengah menginjak-injak kesepakatan bahwa setiap Negara harus mengakui kedaulatan Negara lain.
Tindakan mereka dapat dibenarkan jika hendak menangkap bekas-bekas anggota Nazi, orang-orang bejat akhlaknya dan bertanggungjawab atas kematian manusia yang tak terbilang banyaknya. Tetapi jika, buruannya hanya seorang anak kecil. . . .
Meskipun begitu, Isser tetap menjalankan misinya. Ia bertekad untuk menemukan Jossele dan intuisinya berbisik bahwa anak itu ada di paris.
Sesampai disana, ia menginap di hotel kecil yang sederhana. Mulai sore hari itu hingga jauh malam, ia dan orang-orangnya mengevaluasi kembali masalah yag tengah mereka hadapi.
Ketika kembali ke hotel pada dini harinya, petugas administrasi hotel mengedipkan matanya dan bertanya : “Apakah anda puas bersenang-senang? Anda boleh kok membawa wanita itu kesini kok.  . ..
Isser adalah seorang puritan dan pegawai itu membuatnya marah.
Ia segera keluar dari hotel itu dan pindah ke kedutaan Israel di jalan Wagram.
Merasa senang karena di kunjungi seorang tamu terhormat, sang duta besar menyediakan kamar besar untuknya di rumahnya sendiri.
Tetapi, meskipun membuat sang duta besar merasa tak senang, Isser bersikeras untuk tidur  di tempat tidur besi lipat yang jelek, di suatu kamar kecil di bagian belakang gedung kedutaan. Ia tak butuh kemewahan protokoler dan bagaimanapun, sebagai seorang perintis, ia telah terbiasa tidur di tempat tidur perkemahan yang sedehana.
Ketika anak-anak buahnya mendengar dimana bos mereka tinggal, mereka pun bergegas keluar dari hotel-hotel yang sebenarnya sudah sangat murah dan mencari tempat-tempat penginapan yang harga kamarnya paling murah.
Dengan lebih dari empat puluh orang agen yang berada di paris, kelompok ini menggunakan seluruh waktu mereka untuk mencari Medeleine Frei. Jejak wanita ini tidak ditemukan sedikit pun sejak luput dari pengawasan agen-agen Mossad di suatu terowongan beberapa hari sebelumnya.
Tetapi, si wanita tak membiarkan mereka menunggu lama.
Salah seorang mata-mata yang bertugas memeriksa semua surat kabar ke paris melihat suatu iklan yang dipasang si wanita. Medeleine Frei hendak menjual villanya di luar kota paris.
Beberapa jam sesudah munculnya iklan itu di surat kabar, si wanita di telepon dua orang jerman yang tertarik akan rumah itu. Mereka menanyakan apakah boleh datang dan melihat-lihat rumahnya. Merasa senang karena begitu cepat menemukan calon pembeli, Medeleine Frei segera menyetujuinyya. Ia menjemput kedua orang itu di suatu tempat yang sudah disepakati dan mengantar mereka kerumahnya.
Setelah masuk ke rumah, kedua orang itu segera menutup semua pintu dan memberitahukan jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka adalah anak-anak buah Isser Harel.
Merasa marah karena diperdaya, Medeleine berteriak minta tolong dan mulai menyerang kedua mata-mata itu. Mereka memeganginya dengan tenang. Salah seoramg mata-mata memnta maaf dan menerangkan bahwa mulai sekarang, ia adalah tawanan mereka.
“kami tidak akan menyakitimu. Kami tidak akan menyentuhmu. Silahkan duduk. Tenangkan dirimu, bagaimanapun ini rumahmu, mari kita bicara dengan tenang.
“anda takkan kami izinkan pergi dari sini sebelum memberikan informasi yang kami butuhkan.”
Para agen itu menelpon Isser di kedutaan dan memberitahunya bahwa si wanita telah ditahan. Isser pun segera mengirim salah seorang anak buahnya yang paling terpercaya.
Orang itu adalah penyidik Mossad paling berpengalaman yang bahkan dijuluki “Sang Inquisitor Spanyol” Inquisitor Spanyol, wakil gereja-gereja katolik di spanyol yang mengawali masa pembasmian para Bidaah di eropa abad ke-15. Mereka terkenal kejam oleh teman-temannya di Mossad.
Ia adalah orang yang dipilih Isser Harel untuk mengiterogasi Adolf Eichmann segera sesudah ditangkap.
Orang bertubuh pendek gemuk dan bersuara monoton ini sudah berpengalaman dalam mematahkan kemauan keras puluhan pria selama kariernya.
Kini, ia berhadapan dengan si wanita prancis.
Berjam-jam lamanya ia menginterogasi si wanita mengarahkan pandangan matanya langsung ke mata biru si wanita prancis. Ia terus mengulang-ngulang pertanyaan-pertanyaan yang sama dan kecerdikannya yang dimilikinya, ia mencoba membuat si wanita melakukan kekeliruan.
Tetapi si wanita tak membuat kekeliruan meskipun hanya sekali. Ia meghadapi setiap pertanyaan yang membingungkan dengan jawabanya yang tepat. Tak sekalipun ia mengakui memiliki hubungan dengan Jossele.
Interogasi ini berlangsung empat hari.
Pada malam ke empat “Inquisitor Spanyol” siap untuk menhentikan interogasi. Ia menelpon Isser dan memberitahukan hal ini kepadanya.
“Saya yakin kita sudah menangkap orang yang salah,” katanya. “Ia sama sekali tidak bersalah dalam persoalan ini serta tak tahu sedikitpun mengenai anak itu.”
Ia dan teman-temannya merasa sangat cemas karena sudah melakukan kesalahan dengan menahan seorang wanita yang sama sekali tidak berrsalah di rumahnya sendiri. Jika polisi prancis sampai mengetahuinya, pasti akan terjadi masalah besar.
Isser pun bergegas pergi ke rumah itu. Ia tak mau menerima ucapan anak buahnya. Ia ingin berhadapan sendiri  dengan wanita itu.
Sesampainya disana, Medeliene tetapp tak mau menyerah seperti sebelumnya. Baginya, Isser hanyalah seorang pengganggu lainnya yang berusaha mempersulit hidupnya.
Isser menginterogasi si wanita prancis selama berjam-jam. Ia memeriksa alibinya berulang kali. Alibi itu cocok dengan apa yang di katakana si wanita kepada penginterogasi.
Isser Harel selalu merasa yakin bahwa jika mau, ia dapat memaksa seseorang bebicara.
Namun, Medeleine tak bisa dipaksa. Segala pertanyaan Isser dijawabnya secara tepat.
Menghadapi kegagalan total untuk pertama kali seumur hidupnya, Isser bangun dan meninggalkan kamar itu. Ia telah menghabiskan waktu berjam-jam dengan wanita ini. Karena merasa sangat yakin bahwa si wanita itu tak bersalah, seluruh anak buah Isser mendesaknya agar melepaskan si wanita.
Tetapi Isser benar-benar yakin bahwa si wanita membohongi mereka. Bahwa si wanita benar-benar tahu dimana Jossele bisa di temukan. Bahwa sesungguhnya ia sendiri yang menyelundupkan anak itu keluar Israel.
Tetapi bagaimana cara membuktikannya?
Sementara anak buahnya kasak-kusuk di antara mereka sendiri, Isser membolak-balik dokumen-dokumen tentang si wanita, salah satu dokumen itu adalah paspor si wanita. Isser melihatnya sekilas lalu membuka halamannya
Tiba-iba ia berhenti.
Di panggilnya salah seorang anak buahnya untuk memperlihatkan foto Jossele.
Orang itu membawa foto yang dimaksud. Isser melihat foto itu dengan teliti dan kemudian melihat kembali paspor. Lalu ia memanggil seluruh anak buahnya.
“Apa kalian melihat anak perempuan wanita ini? Saya sama sekali tak tahu bahwa ia memiliki anak perempuan, lihatlah anak perempuan ini dengan saksama. Nah lupakan bahwa anak perempuan ini memiliki rambut pirang yang ikal, lihat wajahnya, Sekarang lihat wajah Jossele. Apa yang kalian lihat?
Mereka tertegun, mereka sedang melihat dua foto dari anak yang sama.
Isser bangkit dari kursinya.
Isser Harel
“Wanita inilah yang kita cari,” kata Isser. Laksanakan tugas kalian.”
Sesudah itu, Isser pun berbalik dan ergi keluar kamar. Tak lama kemudian, ia sudah berada di jalan menuju Paris.
Ketika para agen Mossad menunjukan kedua foto itu, Medeleine Frei menjadi pucat. Ia tahu bahwa mereka telah menemukan rahasianya. Namun ia tetap menantang.
“Lakukan saja apa yang kalian kehendaki. Kalian tak kan menemukan di mana Jossele berada. Untuk itu kalian harus membunuh saya, tetapi sesudah itu, kalian takkan menemukan Jossele.
Orang-orang Mossad, yang sudah merasa khawatir karena baru saja kehilangan muka di hadapan bos mereka, tahu bahwa mereka harus menghasilkan sesuatu.
Dengan enggan, mereka melaksanakan merencanakan cadangan yang sudah mereka rancang sebelumnya memulai interogasi.
Semua agen, kecuali satu orang, meninggalkan kamar. Orang yang masih tinggal membuka map. Dihadapannya terdapat dokumen-dokumen tentang Madeleine Frei.
Mata-mata itu mulai membaca. Ia membacakan seluruh informasi yang mereka ketahui mengenai si wanita, termasuk rincian  kehidupa cintanya selama belajar di peguruan tinggi di paris, segala hal yang si wanita itu sendiri sudah tidak lagi mengingatnya.
Setelah membacakan semuanya, si mata-mata meletakkan map itu diatas meja.
Sebagaimana yang kamu tahu, kata mata-mata itu, kami memiliki daftar lengkap tentang kesemberonoanmu.
Secara pribadi, saya berpendapat bahwa itu adalah urusanmu sendiri. Tetapi sahabt-sahabatmu Naturei Karta mungkin tak berpendapat begitu. Mereka mungkin akan terkejut jika informasi ini kami berikan kepada mereka. Kamu tahu bahwa mereka sangat keras terhadap masalah-masalah seperti ini. Mereka juga sudah merasa bimbang untuk menerima seorang bekas katolik menjadi anggota persekutuan mereka.
Hal ini akan membuatmu menjadi orang terkutuk selamanya di mata mereka, kata si agen sambil mengetuk-ngetuk dokumen itu dengan jari telunjuknya.
Kami tahu bahwa kamulah yang telah menyelundupkan Jossele keluar dari Yerusalem. Kami juga tahu bahwa kamu telah mewarnai rambutnya untuk menyarkannya. Beritahu kami kemana kamu membawanya. Beritahu kami dimana dia sekarang berada, lalu kami akan membakar seluruh dokumen ini!.
Wanita prancis itu diam sejenak. Namun, tak lama kemudian berrkata dengan sangat marah : “ini sangat memalukan! Ini adalah fitnah yag keji”.
Saya tahu, kata si pengiterogasi.
Masa depan Negara saya mungkin terancam jika kami tak menemukan anak ini. Di jalan-jalan Yerusalem, orang-orang Israel saling melempar batu.
Saya pun ingin memperingatkanmu mengenai hal lain, kamu adalah seorang ibu. Kamu pasti tahu apa yang saya bicarakan. Anak ini juga punya ibu yang menyayanginnya seperti kamu menyayangi anak laki-laki mu. Ia tak lagi melihat anak ini selama hamper tiga tahun karena perbuatanmu.
Pikirkan baik-baik dosamu sendiri sebelum menguliahi saya tentang fitah keji.”
Medeleine Frei pun remuk. Mossad telah menemukan kelemahannya.
Ia menerangkan dengan panjang lebar cara penyelundupan Jossele yang sudah diatur rapi.
Beberapa orang temannya dari Naturei Karta meminta agar ia membantu mereka membawa anak itu pergi dan ia sendiri yang menyusun rencana untuk menjalankannya.
Terlebih dahulu, ia berlayar seorang diri ke Haifa sebagai pelancong. Diatas kapal ia sengaja mengakrabkan diri dengan satu keluarga imigran baru, yang memiliki seorang puteri berusia delapan tahun. Ketika turun dari tangga kapal untuk mendarat, Medeleine bertanya dengan luggu apakah ia boleh memegang tangan gadis cilik itu.
Petugas imigrasi menyangka bahwa si wanita prancis datang bersama seorag putrinya. Ia pun mencatat hal ini dalam bukunya.
Pada paspornya, Medeleine dengan sangat teliti telah mengubah nama anak laki-lakinya, Claude, menjadi Claudine.
Dengan demikian, ketika seminggu kemudian ia naik pesawat untuk terbang ke Zurich, pihak pabean tak mencurigai penumpang “Madame Frei dan seorang anak perempuannya, Caludine.
Anak perempuan itu adalah Jossele. Rambutnya sudah diwarnai dan ia telah dibujuk untuk mengenakan pakaian perempuan. Semua ini merupakan bagian dari permainan yang baru di rancang “bibi barunya”.
Rencana yang benar-benar berani malah bisa dikatakan nekad, namun berhasil.
Untuk berapa lama Jossele tinggal disekolah agama yahudi di swis, kemudian, ketika Mossad melakukan pencarian dengan gencar dimana-mana, Medeleine dan “Caludine” pergi ke prancis lewat brusels. Ketika Mossad mulai mengadakan penyelidikan di antara kaum alim-ulama yahudi di paris, Medeleine pun sadar bahwa anak itu bisa saja di temukan. Oleh karena itu, ia pun membawanya ke New York dan menyerahkannya ke tangan sepasang suami-istri di Brooklyn, yang merupakan anggota aliran Hasidis Setmar.
Sekarang ia ada disana, katanya dengan lirih kepada mata-mata Mossad. “Akan saya berikan alamatnya kepadamu”
September 1962, dua tahun dan 10 bulan setelah Jossele menghilang.
Robert Kennedy
Jaksa agung Robert Kennedy (adik kandung presiden Jhon F. Kennedy yang juga meninggall karena dibunuh ketika sedang melakukan kampanye dalam rangka pencalonan dirinya sebagai presiden AS pada tahun 1968) di telepon seseorang untuk urusan yang sangat penting. Yang menelepon Isser Harel dari markas besar Mossad. Dengan suara yang berat, ia berbicara singkat dan langsung ke pokok masalah.
“Anak buah saya sedang dalam perjalanan menuju New York. Mereka ke sana untuk membawa pulang Jossele.
“Kerjasama anda sangat diharapkan.”
Kennedy mendengar bunyi klik, percakapan selesai.
Selama beberapa detik, Kennedy terperangah. Ia mengetahui dan menghormati Isser Harel. Tetapi, mengapa agen-agennya terbang ke New York? Atas wewenang siapa mereka melaksanakan misi di sana?
Dan, siapa atau apa itu Jossele?
Ia segera menghubungi duta besar Amaerika di Tel Aviv, yang segera pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Ben-Gurion. Ia juga mengirim pesan ke Duta Besar Israel di Washington, Abe Harman. Harman tahu mengenai Jossele, namun tak mengetahui maksud Isser sedikit pun. Harman pun merasa cemas akan pelanggaran protokoler serius yang terdapat  dalam misi Isser Harel ini. Dengan panic, a mengirim berita ke Israel.
Ben-Gurion yang cerdik tak mau terseret untuk berbicara kepada siapapun mengani tindakan-tindakan Isser. Ketika Duta Besar Amerika Serikat tiba, ia diterima oleh colonel Halim Ben-David, sekretaris Ben-Gurion yang mengurusi bidang militer. Ben-David adalah seorang yang ramah dan simpatik. Ia berjanji untuk meberitahukan masalah itu sesegera mungkin kepada perdana menteri, yang kebetulan sedang berhalangan karena menghadiri “Sidang Kabinet”. Ia menetapkan waktu untuk mengadakan pertemuan pada hari itu juga.
Sementara itu, Isser Harel tak dapat ditemukan. Ia “Tak bisa dihubungi,” kata sekretarisnya menjelaskan kepada puluhan orang yang tiba-tiba saja hendak bertemu Isser.
Di Washington, Robert Kennedy telah memperoleh laporan mengenai masalah Jossele. Di kemudian hari, ia bercerita kepada seorang Pejabat CIA (Central Intellegence Agency), Dinas intelejen Amerika Serikat bahwa ia sungguh-sungguh heran ketika membaca laporan itu.
Mossad mengutus agen-agennya untuk mengambil seoang anak laki-laki berusia sepuluh tahun.
Apa yang harus ia lakukan terhadap masalahh ini?
Kennedy cenderung untuk membiarkan saja agen-agen itu melaksanakan tugas.Isser Harel pasti takkan mengirim mereka kalau bukan karena alas an yang sangat penting. Dan, orang-orang Israel selalu bekerjasama dengan para pejabat hukum dan mata-mata AS secara sangat baik. Di samping itu, jika orang-orang Mossad sudah terbang, satu-satunya cara untuk menghentikan mereka adalah menembak jatuh pesawat yang mereka tumpangi.
Tetapi, di lain pihak, Kennedy punya kecemasan plitiknya sendiri.
Tak lama lagi akan diadakan pemilihan anggota kongres serta gubernur Negara bagian, dan perdebatan akan tindakan ini dapat membuat hilangnya bebrapa dukungan penting dari orang-orang Yahudi yang secara tradisional diandalkan oleh calon-calon Partai Demokrat. Jika ada yang terluka dalam operasi yang dilakukan orang-orang Israel ini… atau jika Jossele ternyata tak ditemukan di rumah yang dituju, apa yang terjadi nanti?
Kennedy menelepon sekali lag untuk memastikan apakah anak yang dicari benar-benar berada di alamat yang dimaksud. Informannya merasa yakin akan hal itu.
Robert Kennedy sudah mengambil keputusan. Ia akan mengajukan protes terhadap tindakan Isser Harel yang seenaknya sendiri dengan cara selembut mungkin.
Sementara itu FBI (Federal Bureau of Investigation), biro penyelidikan federal AS harus bekerjasama dengan Mossad.
Hari itu, pesawat El Al dari Tel Aviv menyentuh landasan bandara Idlewild New York. Sekelompok agen FBI, dengan sejumlah mobil sudah berdiri di tepi landasan.
Ketika para penumpang turun dari pesawat, beberapa orang segera memisahkan diri dan pergi ke tempat orang-orang FBI berdiri. Mereka disambut sangat ramah.
Dalam satu jam, mobil-mobil itu sudah berkumpul di muka apartemen sederhana di jalan Penn No. 126 Williamsburg, Brooklyn. Di sana sudah menanti beberapa orang berpakaian preman.
Sekelompok agen memasuki apartemen dan naik tangga menuju tempat kediaman tuan dan nyonya Zanwill Gertner. Mereka mengetuk pintu. Nyonya Gertner yang kebingungan dan agak takut ketika melihat begitu banyak orang yang berwajah serius, mengundang mereka masuk.
Di dalam, Zanwill Gertner sedang berdoa. Di sampingnya, sedang memegang buku doa, berdiri seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang mengenakan Yamulke di kepalanya dan Rambut Ikal (orang-orang yahudi ortodoks selalu menyisakan rambut ikal, disebut peot atau peyote di sisi wajah mereka menurut hokum taurat, yang tercatum pada alkitab dalam kitab imamat 19:17) gelap menutupi sisi wajahnya yang pucat.
Salah satu anggota Mossad berbicara dalam bahasa ibrani : “Kemasi barang-barangmu, Jossele. Kamu akan pulang.”
Ida Schumacher diterbangkan dari Tel Aviv ke New York untuk memastikan bahwa anak itu benar-benar puteranya. Ia tak perlu mencari tanda lahir untuk mengenalinya dan segera memeluk anak itu. Si anak berbisik bahwa ia merindukan ibunya.
Dua hari setelah di temukan, Jossele berdiri sambil mengedip-ngedipkan mata di terik sinar matahari bandara Lod dekat Tel Aviv. Orang-orang yang pergi ke bandara untuk menyambut sang ibu dan puteranya yang sudah dipertemukan kembali, bersorak-sorai gembira ketika melihat mereka turun dari pesawat.
Di dalam mobil yang agak jauh dari orang ramai, duduklah seorang pendek berpenampilan biasa saja yang bermata biru terang. Bahkan Isser pun ikut menyambut kedatangan Jossele
Ia tak tahan untuk tak melihat sendiri hasil jerih payahnya.
Lebih dari empat puluh agennya yang paling top telah bekerja purnawaktu selama hampir delapan bulan dalam kasus ini. Selain itu, seratus orang juga ikut bekerja dalam satu kesempatan atau lebih. Hamper seluruh anggaran belanja Mossad pada tahun 1962 di gunakan untuk membiayai usaha-usaha mencari anak ini.
Isser melihat kegembiraan khalayak ramai selama beberapa menit lalu pergi mengunjungi David Ben-Gurion.
Ia memang sudah melapor kepada bosnya segera mendengar bahwa anak itu sudah dikenali dengan pasti. Kini ia berjalan menuju ke kantor Ben-Gurion hanya untuk mengatakan, “Jossele telah kembali.”
Ben-Gurion tak segera menanggapi.
Selama sejenak Isser menyangka bahwa Ben-Gurion mengkin, untuk pertama kalinya selama ia mengenalnya, hendak mengajukan satu atau dua pertanyaan mengenai cara anak itu ditemukan. Mungkin juga Ben-Gurion hendak mengucapkan satu atau dua kata ppujiann . . .
Ternyata Ben-Gurion tak berbicara sedikitpun mengenai Jossele, tetapi Isser mengatakan bahwa mat orang tua itu berbinar-binar ketika berkata :
“Baiklah, dan bagaimana dengan wanita itu?”
Sekarang wanita itu menyebut dirinya sebagai Ruth Ben david. Sesudah masalah Jossele selesai, Mossad menawarkan jabatan kepada si wanita dalam organisasi mereka. Mereka sadar bahwa orang yang bisa luput begitu lama dari kejaran mereka dapat menjadi seorang mata-mata kelas wahid.
Ruth menolak tawaran itu.
Akhirnya, setelah pindah ke Yerusalem ia menikah dengan rabi Amran Blau, pemimpin Naturei Karta yang berusia dua puluh tujuh tahun lebih tua daripadanya, dan isterinya sudah meninggal dua tahun sebelumnya.
Sekarang, Rabi Blau sudah meninggal dan Ruth Ben David terpaksa menjadi nenek dari lima puluh orang anak yang sering mengunjunginya di suatu rumah batu kecil tempat ia tinggal seorang diri. Sebagaimana rumah-rumah lainnya di Mea Shearim, di muka rumah itu tertulis kalimat ini :
“Saya adalah seorang Yahudi, tetapi bukan Zionis” (Zionis = para pendukung gerakan zionisme).
Di kalangan Naturei Karta, janda rabi Blau ini dikenal sebagai seorang Frume, seorang yang sangat saleh. Ia selalu menganakan pakaian hitam dan menutupi kepalanya yang dicukur bersih dengan kerudung. Ia tidak pernah keluar ke jalan tanpa mengenakan kaus kaki panjang hitam meskipun dalam cuaca yang paling panas. Ia rajin berdoa, dan dikenal patuh mengikuti segala peraturan agama yahudi hingga yang terkecil.
Di antara orang-orang yang sering mengunjungi rumah Ruth Ben David, terdapat seorang pemuda bertubuh tegap yang kadangkala, jika sedang menjalankan tugas militer, membawa senapan Uzi (Senapan Kompak buatan Israel).
Keluarga Yahudi Ortodoks
Jossele tak lagi mengenakan pakaian hitam dan rambut ikal seorang yahudi ortodoks.
Tetapi Ruth selalu menerimanya dengan senang hati jika ia datang berkunjung. Ketika sedang berkumpul, mereka mungkin mengenal kembali hari-hari “Perjalanan” mereka ke eropa dulu, mengecoh agen-agen Mossad-nya Isser Harel yang terbaik. (catatan editor :pada 7 juni 2007, surat kabar the Jerusalem post memberitakan bahwa Jossele Schumacher mengunjungi kembali keluarga Gertner di Brooklyn, New York, yang menampungnya empat puluh lima tahun lalu ketika ia di culik)


&gt;>>>>| Bersambung ke Bagian Dua Perang Enam Hari >>>>>>>

1 comment:

  1. Bagus dan sangat bermanfaat. Padahal saya punya buku nya.. tp tetap saya baca ��

    ReplyDelete

Trima kasih atas Kunjungannya..... Tolong..... tinggalkan komentar/pesan agar saya dapat belajar dan belajar, sehingga kelak blog ini dapat bermanfaat.....